(STIBA.ac.id) Madinah/Arab Saudi — Sekitar 30-an kader DPLN Wahdah Islamiyah Biro Madinah berkumpul di sebuah restoran Padang di Madinah, Arab Saudi, pada Ahad, 18 Oktober 2026. Suasana hangat dan penuh keakraban segera terasa ketika rombongan pimpinan IAI STIBA Makassar yang sedang berada di Kota Nabi menyempatkan diri hadir dan berbagi nasihat langsung kepada para kader.
Pertemuan ini dibuka dengan sambutan Ketua DPLN Wahdah Islamiyah Arab Saudi, Ustaz Syahrul Bardin. Ia mengingatkan para kader untuk tidak melupakan tujuan utama keberadaan mereka di Madinah — menuntut ilmu dan menyelesaikan studi dengan sebaik-baiknya. Ia juga menyinggung pentingnya menjaga batasan interaksi dan kewaspadaan terhadap ujian yang kerap datang tanpa diduga, baik dalam urusan pribadi maupun akademik.
Estafet Dakwah dan Bahaya Kontradiksi Diri
Ketua Senat IAI STIBA Makassar, Ustaz Dr. Muhammad Yusran Anshar, tampil pertama menyampaikan taujihat. Ia membuka dengan pengingat yang dalam: dakwah akan terus berlanjut hingga hari kiamat, tetapi tidak ada jaminan setiap orang akan menjadi bagian dari estafet itu.

“Antum semua adalah orang pilihan. Manfaatkan waktu menuntut ilmu ini untuk mempersiapkan diri meneruskan estafet dakwah,” pesannya.
Ia membawa kisah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang di usia belia sudah bersungguh-sungguh mengambil ilmu dari para sahabat senior — sementara teman-teman sebayanya memilih mundur. Hasilnya, Ibnu Abbas menjadi salah satu yang paling menonjol dalam dakwah, sebab ia mengisi waktunya dengan lebih serius dari yang lain.
Ustaz Yusran juga mengingatkan kader untuk waspada terhadap tanaqudhat — kontradiksi antara apa yang diperlihatkan dan apa yang sebenarnya dijalani, terutama di era media sosial yang kerap membentuk citra yang tidak sesuai realitas. Ia mengutip perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang dinukil oleh Imam Ibnu Qayyim:
“Sesungguhnya manusia kini telah pandai memperbagus perkataan. Maka barang siapa yang perkataannya sesuai dengan perbuatannya, dialah orang yang telah meraih bagian kebaikannya. Dan barang siapa yang perkataannya menyelisihi perbuatannya, maka sejatinya ia hanyalah sedang mencela dirinya sendiri.”
Tiga Tingkatan Kebahagiaan dan Konsep Ahsanu ‘Amala
Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A., Ph.D., melanjutkan dengan empat poin yang disampaikan dengan hangat namun penuh bobot.
Ia membuka dengan pengingat tentang usia yang terbatas dan kondisi yang tidak selamanya stabil. Ightanim khamsan qabla khamsin — manfaatkan lima hal sebelum datang lima perkara lainnya — menjadi pesan yang ia titipkan kepada seluruh kader.

Ia kemudian mengurai konsep ahsanu ‘amala: bahwa amal terbaik bukan sekadar ikhlas, tetapi juga harus benar sesuai sunah. Dan karena manusia tidak luput dari kekurangan, konsep saddidu wa qaribu — berusaha tepat dan mendekati sempurna — menjadi pegangan yang realistis.
Rektor juga menyinggung tiga tingkatan kebahagiaan: pleasure (kesenangan sesaat), achievement (pencapaian), dan kontribusi sebagai puncaknya. Ia menegaskan bahwa keberadaan para kader di Madinah adalah peluang emas untuk meraih kebahagiaan tertinggi itu — bukan sendiri-sendiri, melainkan bersama-sama.
“Tentu akan berbeda hasil dari kontribusi yang dilakukan sendiri-sendiri, dan hasil dari kontribusi yang dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan untuk tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan zaman, dan mengajak seluruh kader menjadikan kegelisahan bersama sebagai titik awal pencarian solusi bersama pula.
Pertemuan malam itu bukan sekadar ajang silaturahmi. Ia menjadi pengingat bahwa posisi sebagai penuntut ilmu di Kota Nabi membawa maqam dan kemuliaan tersendiri — sekaligus tanggung jawab yang besar untuk tidak menyia-nyiakan setiap momen yang ada.
Reporter: Muh. Fadhil Abdillah Imran

