info@stiba.ac.id +62 852 8888 1799

Rektor IAI STIBA Makassar Bahas Program Al-Qur’an Bersama Muqri Madinah Syekh Dr. Abdullah bin Muhammad Ghailan

Feature - Kolom Khusus Rektor

(STIBA.ac.id) Madinah/Arab Saudi – Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, M.A., Ph.D. bertemu dengan Syekh Dr. Abdullah bin Muhammad Ghailan, salah seorang muqri (pembaca sekaligus pengajar qiraat yang bersanad dan berhak memberi ijazah) dari Kota Madinah. Pertemuan yang difasilitasi Jam’iyyah Afaq al-Ma’rifah ini membahas program Al-Qur’an yang akan dilaksanakan bersama IAI STIBA Makassar.

Syekh Abdullah merupakan imam di Jami’ Ibn al-Qayyim al-Jawziyah, Madinah. Menurut Rektor, ia telah melahirkan banyak qurra (ahli qiraat), dan cukup banyak orang yang mengambil sanad qiraat darinya. Ia juga sudah sering berkunjung ke Indonesia, meski belum pernah kembali sejak berakhirnya pandemi Covid-19. Rektor menyebut Syekh Abdullah mengetahui perkembangan pendidikan Al-Qur’an di Indonesia dan bagaimana respons masyarakat terhadap kegiatan Al-Qur’an di sini.

Rektor menjelaskan, pertemuan ini terwujud berkat salah seorang pengelola Jam’iyyah Afaq al-Ma’rifah, yang sebelumnya dikenal dengan nama Markaz Inayah, di mana rektor dan beberapa dosen IAI STIBA Makassar menjadi pengelola di awal-awal berdirinya. Pertemuan dengan Syekh Abdullah dimungkinkan melalui salah seorang masyaikh dari lembaga tersebut.

Pengembangan Sanad Qiraat

Program yang dibahas berfokus pada pengembangan sanad qiraat. Ada dua jalur yang dibuka. Pertama, memanfaatkan kedatangan Syekh Abdullah ke Indonesia yang akan diatur jadwalnya. Kedua, bagi peserta yang ingin talaki dan mengambil sanad qiraat, Syekh Abdullah menyatakan sanggup menyediakan waktu, baik langsung dengannya maupun dengan murid-muridnya di Madinah. Sejumlah muridnya di Indonesia yang telah mengambil sanad darinya juga dapat menjadi jalur lain.

Rektor menegaskan, Syekh Abdullah sangat peduli terhadap qiraat dan hanya memberikan sanad kepada mereka yang betul-betul serius. Program yang ada berdurasi paling sedikit tiga bulan, bahkan bisa sampai satu tahun. Pola pelaksanaannya masih akan dirumuskan. Keahlian khusus (takhashshush) Syekh Abdullah memang di bidang qiraat, dan ia telah meluluskan banyak muqri dari berbagai negara.

Peluang bagi Program Studi dan Masyarakat

Menurut Rektor, keberadaan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir menjadikan kerja sama ini strategis bagi IAI STIBA Makassar. Syekh Abdullah adalah doktor di bidang Al-Qur’an, sehingga kepakarannya dapat dimanfaatkan, termasuk untuk memperkuat reputasi institusi. Jika ia dapat hadir atau terlibat dalam kegiatan Al-Qur’an, termasuk daurah yang dilaksanakan secara daring, manfaatnya diharapkan dirasakan para qurra dan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Bagi masyarakat, kerja sama ini diharapkan meningkatkan kualitas para pembaca dan pengajar Al-Qur’an yang jumlahnya kian banyak di Indonesia. Bagi institusi, program ini menambah kapasitas keilmuan para qurra, yang kelak memiliki ijazah dan sanad keilmuan yang jelas. Program ini terbuka bagi mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum.

Harapan

Rektor berharap kerja sama ini memperkuat eksistensi institusi dan menegaskan Al-Qur’an sebagai salah satu ujung tombak dakwah di tengah masyarakat. Ia mengatakan, perbedaan pandangan dalam persoalan furuiyyah mungkin ada, tetapi dalam hal memuliakan Al-Qur’an, seluruh pihak sepakat. Ia berharap IAI STIBA Makassar terus mengajarkan dan mengembangkan Al-Qur’an kepada mahasiswa, dosen, alumni, dan semua pihak yang terkait.

Syekh Abdullah diketahui bersaudara dengan Syekh Abdul Badie’ bin Muhammad Ghailan.