✉ info@stiba.ac.id  |  ☎ +62 852 8888 1799

Dari Brebes hingga Sragen, 13 Dai Alumni IAI STIBA Makassar Bawa Misi Besar ke Jawa Tengah

Feature - Kegiatan Alumni

(STIBA.ac.id) Karanganyar — Tiga belas dai alumni IAI STIBA Makassar kini telah menginjakkan kaki di Jawa Tengah. Kamis, 1 Oktober 2026, di sela rangkaian pembekalan yang digelar di Masjid Al-Wahdah Karanganyar, mereka disambut hangat oleh Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jawa Tengah, Ustaz Elan Kurniawan, S.H., M.Kn., beserta Wakil Ketua, Ustaz Alfi Syahar, Lc., M.A., dan jajaran pengurus wilayah.

Keakraban langsung terasa. Para dai dan pimpinan DPW bersama-sama menikmati rihlah tadabbur alam di Jogja, dilanjutkan makan siang dan ramah-tamah dalam suasana penuh kekeluargaan. Tapi momen paling berkesan, menurut Ustaz Alfi, justru terjadi di masjid.

“Yang paling berkesan saat pembekalan adalah kesiapan dan adab mereka. Saat diberikan amanah, mereka langsung sigap menjadi imam salat, muazin, mengisi kultum, dan kegiatan lainnya,” ujarnya.

Bukan sekadar gesit. Kesiapan itu mencerminkan bekal yang matang. Sesuatu yang memang menjadi ciri khas lulusan IAI STIBA Makassar yang ditempa bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan pembiasaan di lapangan sejak masih di bangku kuliah.

Tersebar di 13 Daerah, Menjawab Kebutuhan yang Nyata

Ketiga belas dai ini tidak ditempatkan di satu kota. Mereka tersebar di berbagai penjuru Jawa Tengah: Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Boyolali, Kota Salatiga, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Sragen.

Penempatan ini menjawab kebutuhan yang nyata: pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, penguatan akidah, serta penanaman ibadah dan akhlak mulia di tengah masyarakat.

Tugas mereka pun tidak ringan. Di setiap daerah penugasan, mereka akan mengajar Al-Qur’an melalui metode Dirosa, tahsin, dan TPA; menjadi imam dan khatib; mengisi majelis taklim seputar akidah, ibadah, dan akhlak bagi bapak-bapak, ibu-ibu, dan remaja; hingga membuka halakah tarbiah sebagai embrio kelembagaan dakwah yang menjangkau semua lapisan—dari anak-anak TPA, remaja, dan pemuda, hingga tokoh masyarakat. Sesuai pesan Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Ustaz Dr. K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., mereka juga diamanahi untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan pemerintah setempat.

Tiga Guru Qur’an, Tiga Penggerak Dakwah di Setiap Daerah

Harapan DPW Wahdah Islamiyah Jawa Tengah terhadap kehadiran para dai ini tidak kecil. Ustaz Alfi merangkumnya dengan target yang konkret.

“Kami berharap dalam setahun ini ada perubahan nyata, minimal di setiap kabupaten/kota tercetak tiga guru Al-Qur’an dan tiga penggerak dakwah dan tarbiah, masjid-masjid yang tadinya vakum menjadi hidup dengan semarak ibadah salat berjemaah dan kajian pekanan, dan lahir kader-kader lokal yang melanjutkan estafet dakwah setelah dai utusan kembali ke kampung halamannya—serta tidak meninggalkan tempat tugas sebelum ada dai baru yang menggantikan.”

Tujuan akhirnya, kata dia, adalah mewujudkan masyarakat yang berakidah shahihah, beribadah sesuai Al-Qur’an dan sunah, serta menjadi bagian dari kader dakwah yang memandu kebangkitan Islam dengan ilmu syar’i di Jawa Tengah.

Perjalanan tiga belas dai ini baru saja dimulai. Tapi dengan bekal dari IAI STIBA Makassar di punggung mereka dan sambutan hangat yang sudah menanti di ujung perjalanan, langkah pertama itu terasa kokoh. Ahad, 4 Oktober 2026, mereka akan resmi berpencar, masing-masing menuju daerah tugas yang telah menunggu.