(STIBA.ac.id) Madinah/Arab Saudi — Hubungan keilmuan para pendiri IAI STIBA Makassar dengan Universitas Islam Madinah (UIM) menjadi pembuka dialog tentang peluang studi dan pengembangan jejaring kelembagaan dalam kunjungan pimpinan IAI STIBA ke UIM, Senin (19/10/2026). Pertemuan ini menjadi kesempatan memperkenalkan kampus yang dibangun oleh alumni UIM sekaligus menjajaki peluang pendidikan bagi mahasiswa dan kader Wahdah Islamiyah.
Kunjungan tersebut diikuti Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A., Ph.D.; Ketua Senat Akademik, Ustaz Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., Ph.D.; serta Kepala Pusat Kerja Sama dan Pengembangan Usaha, Ustaz Arif Patang, S.H.I. Rombongan didampingi Ketua DPLN Wahdah Islamiyah Arab Saudi, Ustaz Syahrul Bardin, Lc., dan Ustaz Abdullah Haj, Lc., M.A., yang tengah menempuh pendidikan doktoral di UIM.

Mereka bertemu dengan Syekh Ahmad Al-Faleh, Wakil Ketua Bidang Beasiswa Luar Negeri; Syekh Abdullah bin Mubarak An-Nakhar, Dekan Fakultas Linguistik dan Penasihat Penerimaan Mahasiswa; serta Syekh Masy’al Al-Harbi, Kepala Pusat Alumni.
Salah satu percakapan berkesan bermula ketika rektor menyerahkan kartu namanya. Kemiripan logo IAI STIBA dengan logo UIM menarik perhatian pihak yang ditemui. Dari situ, pembicaraan berlanjut pada latar belakang para pendiri IAI STIBA Makassar.
“Ketika saya menyodorkan kartu nama, langsung mereka bilang, ‘Ini logonya mirip sekali dengan logo UIM.’ Kita mengatakan itu karena memang pendiri IAI STIBA Makassar semuanya adalah alumni UIM,” tutur Rektor.

Menurut Ketua Senat, penjelasan tersebut mendapat sambutan positif. Para pejabat yang ditemui bergembira mengetahui alumni UIM telah mendirikan dan mengembangkan kampus di Indonesia dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak.
Ia menjelaskan, pertemuan itu sekaligus menjadi kesempatan memperkenalkan IAI STIBA Makassar kepada pejabat-pejabat yang relatif baru. Kedekatan personal dengan sivitas akademika UIM, menurutnya, perlu dilanjutkan melalui komunikasi resmi antarlembaga.

Rektor mengaitkan kunjungan ini dengan arah rencana strategis institusi untuk memperluas pengenalan IAI STIBA di tingkat internasional. Upaya tersebut berjalan seiring dengan peningkatan kualitas internal dan keterbukaan terhadap kesempatan belajar di luar negeri.
“Kerja sama yang paling memungkinkan adalah bagaimana membuka peluang diterimanya kader-kader Wahdah Islamiyah di UIM,” jelasnya.

Pembicaraan juga menyentuh penerimaan mahasiswa dari Indonesia serta mu’adalah, yakni pengakuan atau penyetaraan kurikulum sekolah tingkat SMA berbasis pesantren di lingkungan Wahdah Islamiyah. Ketua Senat menuturkan, berdasarkan penjelasan pihak terkait dalam pertemuan tersebut, pengakuan kurikulum sekolah asal dapat membantu proses penerimaan calon mahasiswa di UIM.
Bagi Rektor, kembali ke UIM juga menghadirkan kenangan masa studi sekitar 25 tahun silam. Sudut-sudut kampus mengingatkannya pada perjalanan menuntut ilmu yang turut membentuk pengabdiannya hingga kini. Ia menilai, arti penting UIM terutama terlihat pada manfaat yang dibawa para alumninya bagi umat Islam di berbagai negara.

Pertemuan ini masih berada pada tahap pengenalan institusi dan penjajakan peluang kerja sama. Ustaz Yusran menekankan pentingnya kunjungan resmi seperti ini untuk membangun komunikasi kelembagaan, memperjelas peluang pendidikan, dan membuka pembicaraan lebih lanjut mengenai pengembangan IAI STIBA.

