Belajar Iman dari Seorang Nenek dari Bontobira yang Tak Pernah Absen ke Masjid

(STIBA.ac.id) Maros — Di sebuah dusun kecil bernama Bontobira, Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili, kami sedang melaksanakan KKN. Kami datang dengan program kerja, rencana kegiatan, dan semangat muda yang menggebu. Tapi siapa sangka, kelak, justru kami pulang membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari semua itu: pelajaran hidup dari seorang nenek sederhana.

Beliau tak punya nama besar. Tak pula gelar panjang. Tapi apa yang beliau miliki jauh lebih mahal dari itu semua: keteguhan iman yang tak lapuk oleh usia. Setiap malam, tubuh tuanya yang renta itu datang ke masjid. Pelan-pelan. Langkahnya lambat, tertatih. Tapi hatinya? Kuat, kokoh, dan bulat menuju satu tujuan: Allah.

Kami sering melihatnya duduk di saf belakang, menunggu tarawih dimulai. Tak pernah mengeluh. Tak pernah absen. Walau lututnya tak lagi kuat menahan berdiri lama, ia tetap ikut berjemaah. Duduk. Diam. Tapi penuh karisma.

“Kalau masih bisa melangkah ke rumah-Nya, kenapa harus pilih di rumah sendiri?” katanya, saat kami bertiga—aku, Aminah, dan Ma’wa—mengantarnya pulang suatu malam.

Kami duduk bersamanya di ruang tamunya yang sederhana. Tak ada sofa empuk, tak ada lampu mewah. Tapi hangat. Hangat sekali. Seperti ada cahaya dari langit yang turun, menenangkan hati siapa pun yang duduk bersamanya.

Ia mulai bercerita. Tentang hidup. Tentang masa mudanya. Tentang orang tuanya. Tentang Allah.

“Kalau kita bantu orang, jangan harap mereka balas. Allah lihat. Allah balas. Allah tidak pernah tidur, Nak.”

Kalimat itu menampar kami lembut. Lalu ia menambahkan, pelan, hampir seperti bisikan:

“Dan satu hal lagi, Nak. Jangan pernah merasa lebih tinggi dari Allah. Allah tidak suka hamba-Nya yang begitu.”

Kami bertiga terdiam. Tertunduk. Tanpa sadar, air mata mengalir. Bukan karena sedih. Tapi karena hati kami disentuh oleh sesuatu yang selama ini mungkin terlalu kami abaikan: kesederhanaan yang penuh kemuliaan.

Nenek dari Bontobira ini mengajarkan bahwa iman bukan soal usia. Bukan soal kekuatan fisik. Tapi soal ketulusan, soal konsistensi, soal hubungan yang tak pernah putus dengan Sang Pencipta.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, yang serba ingin diakui, beliau hadir bagai pelita—menunjukkan arah pulang ke rumah yang sebenar-benarnya: rumah Allah.

Dan dari semua hal yang kami pelajari selama KKN, mungkin inilah pelajaran paling berharga: bahwa iman tak pernah tua.

Reporter: Ariati

wps office下载

telegram下载

telegram下载

TelegramPC版

搜狗输入法皮肤

有道翻译官

Telegram apk下载

Telegram安卓版

Telegram下载

有道翻译官网

有道翻译官网

汽水音乐客户端下载

Telegram中文版

rar下载

Telegram安卓版

Telegram安卓版

汽水音乐

爱思助手PC版

telegram

汽水音乐

telegram下载

Telegram下载

汽水音乐下载

1