(STIBA.ac.id) Makassar — Direktur Utama PT PAL Indonesia, Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., mendorong mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar untuk tidak hanya memiliki fondasi agama yang kuat, tetapi juga membekali diri dengan keterampilan hidup, jiwa entrepreneurship, serta penguasaan ilmu pengetahuan.
Pesan tersebut disampaikan saat membawakan Kuliah Perdana Semester Ganjil Tahun Akademik 1448–1449 H/2026–2027 M di Masjid Anas bin Malik, Kampus IAI STIBA Makassar, Senin (31/8/2026).
Dalam kuliah bertema “Islam, Sains, dan Peradaban: Membangun Generasi Muslim untuk Masa Depan Indonesia”, Dr. Kaharuddin mengajak mahasiswa melihat kembali peran generasi Muslim dalam membangun peradaban. Ia menekankan bahwa keislaman yang kokoh semestinya berjalan beriringan dengan kemampuan memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa.
Akidah dan Akhlak sebagai Fondasi
Di hadapan para mahasiswa, Dr. Kaharuddin menempatkan penguatan akidah dan pembentukan akhlak sebagai fondasi pertama yang perlu dibangun selama menempuh pendidikan.
“Ini adalah kesempatan kita untuk memperkuat akidah kita dan membentuk akhlak kita menjadi akhlak karimah. Ini adalah pondasi dasar yang harus kita perkuat,” ujarnya.
Ia turut membagikan pengalaman pribadinya dalam memandang pentingnya pendidikan agama. Menurutnya, fondasi akidah dan akhlak menjadi bekal utama sebelum seseorang mengembangkan kemampuan pada berbagai bidang lainnya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa IAI STIBA Makassar yang menjalani proses pendidikan dengan pembinaan keilmuan dan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kampus.

Jangan Cukup dengan Ilmu di Kelas
Setelah fondasi akidah dan akhlak, Dr. Kaharuddin mengingatkan mahasiswa agar membangun life skill selama menjalani perkuliahan.
Salah satu kemampuan yang secara khusus ia tekankan adalah komunikasi. Menurutnya, ketika terjun di tengah masyarakat dan dunia profesional, seseorang akan berhadapan dengan manusia yang memiliki latar belakang dan karakter yang beragam.
Kemampuan menyampaikan gagasan dan meyakinkan orang lain karena itu menjadi keterampilan penting.
“Bangun juga life skill karena ini sangat penting. Life skill itu mulai dari kemampuan untuk berkomunikasi, menyampaikan ide dan sebagainya,” ungkapnya.
Kemampuan tersebut, lanjutnya, akan dibutuhkan ketika seseorang berinteraksi dengan berbagai pihak dan berusaha menghadirkan gagasan yang bermanfaat di tengah masyarakat.
Bangun Jiwa Entrepreneurship
Bekal berikutnya yang ditekankan Dr. Kaharuddin adalah entrepreneurship.
Menurutnya, kemampuan entrepreneurship tidak berarti setiap mahasiswa harus menjadi pebisnis. Pengalaman dan pola pikir kewirausahaan dapat digunakan dalam berbagai bidang kehidupan dan profesi.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memiliki pengalaman berdagang, demikian pula sejumlah sahabat Nabi.
“Entrepreneurship ini menjadi satu kemampuan yang juga harus dibangun,” tuturnya.
Ia menilai pengalaman kewirausahaan dapat melatih seseorang menjadi lebih adaptif, berinisiatif, mampu melihat peluang, serta memiliki keberanian untuk mewujudkan gagasan.
Hilangkan Dikotomi Agama dan Sains
Dr. Kaharuddin kemudian menyoroti pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan di tengah perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, generasi sekarang memiliki akses terhadap sumber pengetahuan yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu seseorang harus mendatangi perpustakaan dan mencari literatur secara terbatas, kini berbagai ilmu dapat dipelajari dengan jauh lebih mudah.
Kemudahan tersebut, katanya, harus dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk terus memperluas wawasan.
Ia secara khusus mengajak mahasiswa untuk menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan sains.
Dr. Kaharuddin mencontohkan para ulama dan ilmuwan pada masa kejayaan Islam yang tidak hanya mendalami Al-Qur’an, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan manfaat luas bagi umat manusia.
Dalam bagian lain materinya, ia menyebut sejumlah tokoh dalam sejarah keilmuan Islam seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Ibnu Al-Haitsam. Ia mengaitkan tradisi keilmuan tersebut dengan lahirnya berbagai perkembangan pengetahuan, termasuk algoritma yang menjadi salah satu fondasi teknologi modern seperti kecerdasan buatan.
Menurutnya, seorang Muslim seharusnya mampu melihat ciptaan Allah dan berbagai fenomena di sekitarnya sebagai pintu untuk memperdalam keimanan sekaligus menggali ilmu yang bermanfaat.

Ilmu untuk Umat dan Bangsa
Dr. Kaharuddin juga banyak mengangkat industri maritim sebagai contoh bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menentukan kekuatan sebuah peradaban.
Ia menyinggung sejarah pembangunan bahtera Nabi Nuh ‘alaihissalam, kekuatan armada pada masa Muhammad Al-Fatih, hingga perkembangan industri maritim negara-negara modern.
Melalui berbagai contoh tersebut, ia mengajak mahasiswa menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang membutuhkan generasi berilmu dan memiliki kemampuan untuk mengelolanya.
Bagi Dr. Kaharuddin, ilmu pada akhirnya tidak semestinya berhenti pada pencapaian pribadi.
Ia berharap mahasiswa mampu menggunakan kesempatan belajar yang dimiliki untuk memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat, umat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Mudah-mudahan dengan itu kita bisa menjalankan amanah kita sebagai manusia yang dilahirkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, untuk bisa memberikan yang terbaik, untuk bisa memberikan manfaat yang terbaik untuk umat sekitar kita, untuk negara kita ini,” pesannya.
Kuliah perdana tersebut sekaligus membawa pesan bahwa generasi Muslim masa depan membutuhkan perpaduan antara keteguhan akidah, kemuliaan akhlak, keterampilan hidup, jiwa entrepreneurship, dan keluasan ilmu pengetahuan. Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pribadi yang berilmu, tetapi juga mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.
