Dosen IAI STIBA Makassar Dorong Mahasiswa Melihat Ekonomi Hijau dalam Perspektif Islam

(STIBA.ac.id) Gowa – Rabu 16 September 2026 Dosen IAI STIBA Makassar, Ariesman M., S.TP., M.Si., menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Nasional bertema “Membangun Ekonomi Hijau dalam Wacana Ekonomi Islam” yang diselenggarakan oleh HMJ Ekonomi Islam di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Dalam forum tersebut, Ariesman mengajak mahasiswa untuk tidak hanya memahami ekonomi hijau sebagai konsep ekonomi dan lingkungan, tetapi juga melihatnya dari perspektif Islam, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Sebagai akademisi yang memiliki latar belakang ilmu teknologi pertanian dan aktif dalam kajian lingkungan, Ariesman menekankan bahwa perubahan paradigma ekonomi merupakan sesuatu yang perlu dipahami oleh generasi muda, khususnya mahasiswa ekonomi Islam.

Dari Pola Ekonomi Lama Menuju Ekonomi Hijau

Dalam pemaparannya, Ariesman mengawali dengan mengajak peserta melihat kembali pola pembangunan ekonomi yang selama ini berkembang.

Menurutnya, paradigma pembangunan tidak bersifat statis. Ketika suatu model pembangunan menghasilkan berbagai persoalan baru, termasuk pencemaran dan kerusakan lingkungan, maka manusia dituntut untuk melakukan evaluasi dan mencari pendekatan yang lebih berkelanjutan.

“Kita sedang menyaksikan perubahan pola pembangunan. Dari pola lama yang cenderung menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai orientasi utama, menuju paradigma baru yang berusaha mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.”»

Menurutnya, inilah salah satu konteks penting mengapa konsep green economy atau ekonomi hijau semakin banyak dibicarakan.

Mengapa Disebut “Hijau”?

Ariesman kemudian mengajak peserta melakukan refleksi sederhana:

“Kalau ada ekonomi hijau, apakah berarti ada ekonomi merah, ekonomi kuning, atau ekonomi hitam?”»

Ia menjelaskan bahwa warna hijau dalam istilah ekonomi hijau merupakan metafora, bukan klasifikasi resmi yang membagi ekonomi berdasarkan warna.

Hijau identik dengan:

Kehidupan
Pertumbuhan
Kesuburan
Keseimbangan
Regenerasi
Keberlanjutan

Karena itu, ekonomi hijau dapat dipahami sebagai paradigma ekonomi yang berusaha mempertemukan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan manusia, dan kelestarian lingkungan.

Belajar dari Tragedi Lingkungan

Sebagai dosen yang mengajarkan keterkaitan manusia, ilmu pengetahuan, dan alam, Ariesman mengajak peserta melihat berbagai tragedi lingkungan sebagai pelajaran penting bagi peradaban.

Ia menyinggung tragedi Minamata di Jepang, persoalan pengelolaan sampah dan tragedi TPA Leuwigajah, pencemaran air, pencemaran udara, kerusakan tanah, serta berbagai persoalan ekologis yang muncul akibat aktivitas manusia.

Berbagai kejadian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tidak pernah benar-benar terpisah dari lingkungan.

Ketika biaya lingkungan tidak diperhitungkan, keuntungan ekonomi yang diperoleh hari ini dapat berubah menjadi beban bagi masyarakat dan generasi mendatang.

«“Jangan sampai keuntungan ekonomi hari ini justru menjadi biaya yang harus dibayar oleh masyarakat dan generasi yang akan datang.”»

Menurut Ariesman, berbagai persoalan tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi dunia untuk terus mengembangkan pendekatan pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Membaca Ekonomi Hijau dari Perspektif Islam

Sebagai dosen di lingkungan perguruan tinggi Islam, Ariesman mengajak mahasiswa untuk tidak memisahkan pembahasan ekonomi dari nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, Islam telah memberikan kerangka etik yang kuat dalam hubungan manusia dengan alam.

Manusia memiliki posisi sebagai khalifah, tetapi sekaligus memikul amanah untuk mengelola bumi.

Allah SWT berfirman:

«وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا»

«“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)»

Ayat tersebut, menurut Ariesman, memberikan pesan bahwa aktivitas manusia tidak boleh diarahkan pada tindakan yang menghasilkan kerusakan.

Islam justru mendorong islah, yaitu melakukan perbaikan dan menghadirkan kemaslahatan.

Bahkan Gangguan Kecil pun Diperhatikan

Salah satu contoh yang disampaikan Ariesman adalah larangan seseorang mendatangi masjid setelah mengonsumsi bawang putih atau bawang merah ketika baunya dapat mengganggu orang lain.

Ia menggunakan contoh sederhana tersebut untuk menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan dampak perbuatan seseorang terhadap orang lain.

«“Kalau sesuatu yang mengganggu orang lain dalam skala kecil saja diperhatikan dalam ajaran Islam, maka bagaimana dengan pencemaran air, pencemaran udara, kerusakan tanah, sampah, dan kerusakan lingkungan yang dampaknya jauh lebih besar?”»

Menurutnya, prinsip tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat ditempatkan sebagai bagian dari implementasi nilai rahmatan lil ‘alamin.

Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia memperlakukan ciptaan Allah secara bertanggung jawab.

Sampah Bukan Sekadar Sampah

Ariesman juga memperkenalkan kepada peserta gagasan ekonomi sirkular.

Jika ekonomi linear menggunakan pola:

Ambil → Produksi → Konsumsi → Buang

maka ekonomi sirkular berusaha membangun pola:

Kurangi → Gunakan Kembali → Perbaiki → Daur Ulang → Bernilai Kembali.

Dalam perspektif ini, sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat dipandang sebagai sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Ariesman, mahasiswa ekonomi Islam perlu memiliki kemampuan melihat nilai ekonomi di balik persoalan lingkungan.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan tertentu. Limbah pertanian dapat dimanfaatkan kembali. Lahan yang tidak produktif dapat dikembangkan. Bahkan pohon dan ekosistem memiliki berbagai manfaat ekonomi dan ekologis yang dapat dihitung dan dikelola secara berkelanjutan.

Dari Pohon hingga Perdagangan Karbon

Pembahasan kemudian diarahkan pada perkembangan ekonomi rendah karbon dan perdagangan karbon.

Ariesman menjelaskan bahwa karbon kini tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga telah masuk ke dalam ruang ekonomi.

Namun ia mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada pemahaman bahwa perdagangan karbon adalah tujuan utama.

«“Perdagangan karbon bukan tujuan akhir. Tujuan utamanya tetap bagaimana mendorong pengurangan emisi dan menjaga lingkungan.”»

Menurutnya, instrumen ekonomi seperti perdagangan karbon seharusnya digunakan untuk menciptakan insentif agar aktivitas ekonomi bergerak menuju pengurangan emisi dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Ekonomi Hijau Bukan Anti-Keuntungan

Salah satu pesan utama yang disampaikan Ariesman adalah bahwa ekonomi hijau bukan berarti menolak keuntungan.

“Ekonomi hijau bukan anti-profit. Ekonomi hijau adalah upaya mengubah cara kita memperoleh profit.”»

Karena itu, mahasiswa ekonomi Islam perlu berpikir lebih jauh mengenai bagaimana menciptakan bisnis yang tetap produktif sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Dalam perspektif Islam, aktivitas ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari aspek halal atau tidak halal sebuah transaksi.

Perlu pula diperhatikan apakah aktivitas tersebut:

Halal — Tayyib — Adil — Lestari — Maslahah.

«“Ekonomi Islam tidak hanya bertanya: apakah transaksi ini halal? Kita juga perlu bertanya: apakah ia adil, apakah membawa maslahat, apakah menimbulkan kerusakan, dan apakah dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi berikutnya?”»

Tantangan bagi Mahasiswa Ekonomi Islam

Menutup pemaparannya, Ariesman mengajak mahasiswa untuk melihat persoalan lingkungan sebagai ruang inovasi dan peluang pengembangan ekonomi baru.

Mahasiswa ekonomi Islam, menurutnya, tidak harus hanya menjadi konsumen teori ekonomi hijau. Mereka dapat menjadi bagian dari lahirnya:

Green entrepreneurship
Bisnis ekonomi sirkular
Usaha berbasis konservasi
Pertanian berkelanjutan
Bisnis pengelolaan sumber daya air
Bisnis pengelolaan sampah
Ekonomi rendah karbon
Inovasi pembiayaan hijau

Dengan demikian, ilmu ekonomi Islam dapat hadir menjawab persoalan nyata masyarakat sekaligus memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.

«“Bumi bukan hanya tempat kita mencari rezeki. Bumi adalah amanah yang harus kita kelola dan pertanggungjawabkan.”»

Seminar nasional tersebut juga menghadirkan Dr. Sirajuddin, S.E.I., M.E., Ketua Program Studi Ekonomi Islam UIN Alauddin Makassar, serta Muhammad Fadhil, S.Pd.I., M.Pd., Pendamping SDM Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial RI, dengan Riska Ramadani sebagai moderator.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk melihat bahwa masa depan ekonomi tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan dan keuntungan, tetapi juga mengenai keadilan, keberlanjutan, tanggung jawab ekologis, dan kemaslahatan.

Sebagai akademisi, Ariesman mendorong agar wawasan tersebut tidak berhenti di ruang seminar, tetapi berkembang menjadi cara berpikir, penelitian, inovasi, dan praktik ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Ekonomi yang baik bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan.”

“Hijau ekonominya, kuat nilai Islamnya, lestari buminya, luas maslahatnya.”

error code: 521 1