info@stiba.ac.id +62 852 8888 1799

Apresiasi Bahasa Arab Sivitas IAI STIBA, Syekh Muhammad Abdul Karim Tekankan Al-Qur’an sebagai Pembentuk Akhlak

Feature - Kegiatan Dosen

(STIBA.ac.id) Makassar — Syekh Dr. Muhammad Abdul Karim menyampaikan apresiasinya terhadap kemampuan bahasa Arab sivitas akademika IAI STIBA Makassar saat mengisi Studium Generale, Jumat (2/10/2026). Kemampuan peserta mengikuti kuliah tanpa penerjemah menjadi perhatian khusus ulama asal Sudan tersebut, sekaligus mengantarkan pembahasan tentang hubungan bahasa Al-Qur’an dan pembentukan akhlak.

“Saya semula berpikir harus berbicara lalu berhenti untuk menunggu terjemahan. Namun, ternyata seluruh peserta yang hadir dalam pertemuan ini memahami bahasa Arab. Ini sungguh sangat menggembirakan,” ungkapnya dalam bahasa Arab.

Studium Generale ini mengangkat tema “Al-Qur’an dan Pengaruhnya terhadap Keterpaduan Kemampuan Berbahasa serta Peningkatan Akhlak”. Kegiatan berlangsung di Masjid Anas bin Malik untuk peserta ikhwan dan Aula Aisyah untuk peserta akhwat, dengan melibatkan dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa. Ustaz Harman Tajang, Lc., M.A., Ph.D., salah seorang dosen IAI STIBA Makassar yang memiliki kedekatan dengan sykeh bertindak selaku moderator.

Syekh Muhammad Abdul Karim merupakan Sekretaris Jenderal Rabithah Ulama al-Muslimin dan pengajar pada bidang Kebudayaan Islam di Universitas Khartoum. Pada awal pemaparannya, ia juga mengungkapkan telah mengenal sejumlah alumni IAI STIBA Makassar yang ditemuinya.

Dalam sambutannya, Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A., Ph.D. menyambut kehadiran narasumber sebagai kesempatan bagi keluarga besar kampus untuk menimba ilmu, hikmah, dan pengalaman.

“Kampus ini membuka hati sebelum membuka pintunya untuk Anda,” tuturnya dalam bahasa Arab.

Rektor menegaskan bahwa pertemuan tersebut memiliki makna keilmuan, keimanan, dan persaudaraan. Ia berharap sivitas akademika dapat mengambil manfaat dari arahan serta pengalaman Syekh Muhammad Abdul Karim.

Dalam kuliahnya, Syekh menjelaskan bahwa keindahan bahasa Al-Qur’an berkaitan erat dengan tuntunan untuk membangun kepribadian manusia. Pilihan kata dalam Al-Qur’an tidak hanya menunjukkan keagungan bahasanya, tetapi juga mengajarkan cara bersikap dan memperlakukan sesama.

Ia mencontohkan tuntunan berbakti kepada orang tua dalam Surah Al-Isra’. Larangan mengucapkan “uff” menunjukkan perhatian Al-Qur’an terhadap bentuk paling ringan dari ungkapan kejengkelan. Tuntunan itu kemudian dilanjutkan dengan perintah mengucapkan perkataan mulia serta merendahkan diri dengan penuh kasih sayang di hadapan keduanya.

Menurutnya, rangkaian ayat tersebut memperlihatkan pendidikan yang utuh: menjaga ucapan, memilih perkataan yang menghormati, hingga membentuk sikap seorang anak kepada orang tuanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan berbahasa Arab merupakan nikmat yang perlu disyukuri dan dimanfaatkan. Bagi peserta yang berbahasa Indonesia, penguasaan bahasa Al-Qur’an menjadi bekal untuk memahami agama, mengajarkannya kepada keluarga, serta menyampaikan ilmu kepada masyarakat.

Lebih jauh, Syekh menekankan bahwa Al-Qur’an membina manusia melalui keterkaitan antara akidah, ibadah, dan akhlak. Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an semestinya tampak dalam cara berpikir, beribadah, dan menjalani kehidupan.

“Kita tidak membaca Al-Qur’an sekadar untuk membacanya, tetapi untuk meneladani dan mengikuti petunjuknya,” pesannya.

Pembahasan semakin mendalam pada sesi dialog. Salah seorang peserta menanyakan kesenjangan antara kemampuan memahami bahasa Arab dan perilaku seseorang: mengapa penguasaan bahasa serta pemahaman teks Al-Qur’an tidak selalu tercermin dalam akhlaknya?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Syekh menjelaskan pentingnya kesadaran bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang berisi tuntunan untuk dilaksanakan. Ia mengajak peserta meneladani cara para sahabat mempelajari Al-Qur’an dengan memadukan pemahaman dan pengamalan.

“Bacaan adalah awal dari tilawah, tetapi bukan akhirnya,” ujarnya, seraya menjelaskan bahwa tilawah juga mengandung makna mengikuti petunjuk Al-Qur’an.

Kepada para pengajar, ia memberikan pesan praktis agar pembelajaran Al-Qur’an disertai penjelasan makna. Guru dapat menghentikan bacaan sejenak pada ayat tertentu untuk menerangkan pesan, perintah, larangan, maupun pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Pesan tersebut mempertemukan dua hal yang menjadi perhatian dalam kuliah umum ini: penguasaan bahasa sebagai jalan memahami wahyu dan pendidikan Al-Qur’an sebagai proses pembentukan akhlak. Syekh pun mengajak seluruh peserta memperkuat tadabur serta membersihkan hati agar petunjuk Al-Qur’an semakin membekas dalam kehidupan.

Halakah dengan syekh kembali diadakan khusus dengan para dosen di Saunk Resto and Coffe. Kegiatan ini dihadiri 50 dosen, termasuk Ketua Senat dan Rektor IAI STIBA Makassar.