Gebrakan Akademik di Tengah Gelap: Himmah HES Rombak Paradigma Riset Lewat Pendekatan Das Sollen dan Das Sein

(STIBA.ac.id) Makassar – Di tengah kondisi pemadaman listrik yang menyelimuti area kampus pada Ahad malam, 20 September 2026, Himpunan Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah (Himmah HES) sukses menyelenggarakan Workshop Metodologi Penelitian Skripsi. Kegiatan akademik ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa lintas program studi—seperti HES, Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Perbandingan Mazhab (PM), dan Ilmu Hadis. Kehadiran mahasiswa, yang rata-rata tengah menempuh semester kelima dan ketujuh ini, menjadi bukti nyata tingginya himmah belajar yang tak bisa disurutkan oleh keadaan.

Menghadirkan Ustaz Ikhwan Wahid Minu, S.Pd., M.E., Kepala Bagian Audit Mutu PPM sekaligus dosen yang juga mengajar prodi HES, agenda yang diinisiasi oleh Himmah HES ini bertujuan membedah penyakit kronis dalam penyusunan tugas akhir mahasiswa. Alih-alih terganggu dengan kegelapan ruangan, sang narasumber justru menyulap insiden mati lampu tersebut menjadi metafora motivasional pembuka yang memukau.

“Listrik boleh saja padam, tapi himmah kita, semangat kita itu tidak boleh padam. Mudah-mudahan malam ini mirip dengan apa yang Allah firmankan, bahwa yang kita lakukan ini adalah ikhtiar kita minaz-zhulumāti ilan-nūr, dari kegelapan menuju cahaya,” buka Ustaz Ikhwan, seketika mencairkan ketegangan dan memancing antusiasme peserta.

Kritik Keras untuk “Pajangan Perpustakaan”
Memasuki materi inti, Ustaz Ikhwan melontarkan kritik satir namun tajam terhadap realitas riset sarjana di perguruan tinggi Indonesia. Banyak skripsi yang hanya berujung menjadi pajangan etalase perpustakaan, isinya berputar-putar seperti labirin, hingga tak bisa didiseminasikan kepada masyarakat.

Sumber dari segala kebuntuan ini, menurutnya, berakar pada satu kesalahan fatal mahasiswa: mencari contoh judul skripsi di mesin pencari internet sebelum menemukan masalah penelitian yang sebenarnya. Untuk meruntuhkan kebiasaan tersebut, ia melempar sebuah killer opening yang menohok seisi ruangan: “Skripsi yang kuat itu tidak dimulai dari judul yang bagus, tetapi dari masalah yang nyata.”

Membedah Kesenjangan Das Sollen dan Das Sein
Workshop ini mengajak peserta menyelami konsep filosofis dari sebuah riset. Masalah penelitian yang sesungguhnya adalah adanya disparitas (kesenjangan) antara Das Sollen (teori, norma, atau hukum tertulis yang semestinya) dengan Das Sein (realitas empiris atau fakta di lapangan).

Dalam ranah keilmuan HES, Ustaz Ikhwan memberikan ilustrasi empiris. Secara teori (das Sollen), jual beli syariah sangat mensyaratkan keterbukaan, kerelaan, dan terbebas dari gharar (ketidakjelasan). Namun faktanya di masyarakat (das Sein), marak praktik jual beli daring dengan spesifikasi barang yang samar. Kesenjangan anomali inilah yang sah diangkat menjadi sebuah penelitian.

Agar mahasiswa tidak mengalami fase “vakum skripsi”—kondisi di mana mahasiswa buntu berbulan-bulan justru setelah judulnya disetujui (di-ACC)—narasumber merumuskan enam hierarki mutlak dalam penyusunan riset: Minat -> Fenomena -> Masalah -> Fokus -> Pertanyaan Penelitian -> Judul.

Sentilan Literasi dan Penggunaan AI
Di sela-sela materi metodologi yang padat, ia menyempatkan diri melontarkan humor satir untuk mencairkan suasana.

“Tipe mahasiswa yang otaknya kalau dijual kembali itu harganya tinggi sekali. Kenapa? Karena otaknya masih orisinil, jarang dipakai mikir,” guraunya yang disambut gelak tawa audiens.

Lebih lanjut, Ustaz Ikhwan menyinggung tren penggunaan Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT atau Gemini. Teknologi ini diizinkan sebagai instrumen pembantu, namun bukan sebagai pemikir utama. Kehebatan prompt AI sangat bergantung pada kualitas isi kepala penggunanya. Jika pondasi literasinya kosong, hasil yang dikeluarkan AI pun akan kacau.

Mengingat skripsi berbahasa Indonesia minimal berjumlah 60 halaman dan bahasa Arab 50 halaman, narasumber mewajibkan mahasiswa untuk memperkuat literasi. Masalah penelitian berkualitas hanya bisa lahir dari mahasiswa yang rajin membedah jurnal, bukan mereka yang hanya gemar duduk di warung kopi tanpa menyentuh literatur ilmiah.

Observasi Lapangan Sebagai Tantangan Akhir
Sebelum meracik masalah menjadi judul, mahasiswa diminta memfilter topik mereka menggunakan enam kriteria ketat: Nyata, Penting, Ilmiah, Spesifik, Tersedia datanya, dan Sesuai kemampuan.

Di penghujung acara, narasumber tidak memberikan penugasan di atas kertas, melainkan sebuah tantangan empiris. Para peserta diinstruksikan untuk turun ke lapangan—seperti masjid, pasar, atau mengamati media sosial—minimal selama 30 menit pada pekan ini. Tujuannya adalah mencari fenomena ganjil yang menyalahi teori, untuk kemudian dimetamorfosiskan menjadi rumusan judul yang kuat pada sesi asistensi pekan depan.

Melalui workshop yang mengawinkan ketajaman analitis dan pendekatan membumi ini, Himmah HES berharap paradigma riset mahasiswa IAI STIBA Makassar resmi dirombak. Bukan lagi dimulai dari pencarian judul yang instan, melainkan dari kepekaan menangkap masalah yang nyata di tengah masyarakat.

Reporter: Fathradillah Rifaldi

error code: 521 1