(STIBA.ac.id) Palu – Tantangan ideologi kontemporer terhadap fitrah manusia menjadi fokus utama Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi, Lc., M.A., Ph.D., dalam Seminar Nasional Semarak Muktamar V Wahdah Islamiyah. Acara tersebut diselenggarakan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Sulawesi Tengah di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (UNTAD), Palu, Sabtu (8/8/2026), dengan menghadirkan sekitar 300 peserta secara langsung dan peserta lainnya melalui Zoom.
Dalam materi “Pemikiran Sistemik dan Strategis: Fitrah Manusia dan Tantangan Ideologi Kontemporer”, Ustaz Akhmad Hanafi menjelaskan fitrah dalam Islam sebagai kecenderungan manusia kepada kebenaran dan kebaikan. Ia menekankan bahwa menjaga fitrah tidak dapat dilepaskan dari lingkungan pertama yang membentuk kehidupan seseorang: keluarga.
“Fitratullah itu adalah kesucian itu. Fitratullah itu adalah kecondongan kita kepada kebenaran, kebaikan,” ujarnya.
Menurutnya, besarnya perhatian Al-Qur’an terhadap persoalan keluarga menunjukkan posisi strategis institusi tersebut. Pembahasannya mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilihan pasangan, pembentukan keluarga, hingga penyelesaian konflik.
“Ketika Al-Qur’an menyampaikan kepada kita isu-isu keluarga dan didetailkan, itu berarti memang salah satu basis, benteng utama yang harus kita jaga itu adalah persoalan keluarga,” katanya.
Namun, menurut Ustaz Akhmad Hanafi, keluarga kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Berbagai pengaruh modernisme dan gagasan kontemporer tidak hanya hadir dalam kehidupan sosial, tetapi juga semakin mudah menjangkau generasi melalui media digital.
“Realitas ancaman ini ada, disrupsi modernisme yang hadir hari ini, krisis global yang luar biasa. Bahkan dipublikasikan, dikampanyekan di tengah kehidupan kita, terutama ketika dia sudah hadir di media-media sosial yang dikonsumsi oleh anak-anak kita,” ujarnya.

Dalam paparannya, Ustaz Akhmad Hanafi menguraikan sejumlah tantangan ideologi kontemporer, termasuk liberalisme dan HAM sekuler, teori gender kontemporer, serta gerakan normalisasi sistemik. Menurutnya, perkembangan berbagai gagasan tersebut perlu dihadapi dengan penguatan pendidikan berbasis keluarga dan pemahaman keislaman sejak dini.
Upaya tersebut, juga membutuhkan perubahan dalam metode dakwah. Lembaga dakwah perlu hadir di ruang digital, tempat generasi muda banyak memperoleh informasi dan membentuk cara pandangnya.
“Lembaga-lembaga dakwah harus lebih hadir, lebih menyentuh tontonan yang dihadirkan di tengah-tengah kehidupan. Kita harus masuk di ruang-ruang itu,” katanya.
Ustaz Akhmad Hanafi juga mendorong dakwah edukatif dan kuratif melalui konseling serta pendampingan yang mampu merangkul masyarakat.
“Dakwah edukatif sifatnya kuratif, menyediakan ruang konseling, rehabilitasi spiritual, memberikan pendampingan psikologis yang merangkul dan menyembuhkan tanpa menghakimi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan kebijakan juga diperlukan agar upaya menjaga fitrah dan ketahanan keluarga mendapat dukungan yang lebih luas. Dengan demikian, keluarga, pendidikan, dakwah, dan kebijakan dapat berjalan bersama menghadapi perubahan sosial.

Seminar yang mengangkat tema “Merawat Fitrah, Menguatkan Keluarga, Membangun Peradaban” juga menghadirkan narasumber lain dari perspektif pemerintah dan akademis, yakni Prof. Dr. H. Jamaluddin M. Sakung serta Guru Besar Fakultas Pertanian UNTAD. Hadir pula Staf Ahli Gubernur Sulawesi Tengah Bidang SDM, Pengembangan Kawasan, dan Wilayah, Dr. Ir. Rusmiadi, ST., SH., M.Si., yang mewakili Gubernur Sulawesi Tengah H. Anwar Hafid.
Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Tengah, K.H. Muhammad Yani Abdul Karim, Lc., M.A., menjelaskan bahwa acara tersebut bukan sekadar rangkaian menuju Muktamar V, melainkan ruang untuk menyuarakan berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan, pemerintah, dan dunia akademik dalam membangun peradaban melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Seminar Nasional ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Muktamar V Wahdah Islamiyah di Sulawesi Tengah dan menjadi ruang dialog komprehensif untuk membahas tantangan fitrah, keluarga, pendidikan, dan pembangunan peradaban dalam konteks perubahan zaman.
