(STIBA.ac.id) — Ada pesan kuat yang dibawa Muhammad Sulfadli, S.H., pada penghujung Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan 2026. Di hadapan para peserta, guru, dan ulama, alumnus IAI STIBA Makassar itu mengingatkan bahwa seorang penuntut ilmu tidak cukup hanya memiliki keluasan wawasan. Ilmu harus berjalan bersama adab dan hadir sebagai jalan untuk menyatukan, bukan mempertajam perbedaan.
Sulfadli mendapat amanah menyampaikan pesan dan kesan mewakili peserta pada penutupan PKU MUI Sulsel yang berlangsung di Hotel Sultan Alauddin Makassar, Rabu, 12 Agustus 2026. Kesempatan tersebut menjadi momen istimewa baginya, sekaligus kebahagiaan karena dapat membawa nama baik almamaternya, IAI STIBA Makassar.
Bagi Sulfadli, PKU bukan sekadar ruang menambah pengetahuan. Program tersebut mempertemukannya dengan berbagai perspektif, pengalaman intelektual, dan latar belakang peserta yang beragam. Dari perjumpaan itu, ia melihat bahwa proses belajar juga berlangsung melalui dialog, diskusi, dan kesediaan mendengar pandangan yang berbeda.
Belajar Tidak Tergesa-gesa dalam Menetapkan Hukum
Salah satu pengalaman penting yang ia rasakan selama PKU adalah pendalaman cara memahami persoalan hukum Islam secara metodologis.
Para peserta, menurut Sulfadli, tidak hanya diarahkan untuk mengetahui suatu hukum, tetapi juga memahami proses bagaimana hukum itu ditetapkan. Mereka mempelajari nas, usul fikih, qawaid, maqasid, istinbat, penentuan illah, hingga pendekatan terhadap berbagai persoalan kontemporer.
Proses tersebut memberi pelajaran penting: calon ulama tidak boleh tergesa-gesa dalam menghukumi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Kehati-hatian, kedalaman ilmu, dan kemampuan memahami konteks menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab seorang yang berbicara atas nama agama.
Pengalaman belajar di PKU juga tidak terbatas di ruang kelas. Diskusi antarpeserta berlanjut saat makan, pada waktu senggang, dalam Focus Group Discussion (FGD), bahkan hingga larut malam. Perbedaan latar belakang dan perjalanan keilmuan justru menjadi ruang untuk saling memperkaya perspektif.

Ilmu Harus Meninggalkan Jejak
Pesan lain yang mengemuka adalah pentingnya menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang berdampak.
Selama mengikuti PKU, para peserta mendapatkan dorongan dari guru dan pengajar agar penguasaan ilmu tidak berhenti pada teori. Kader ulama juga perlu meninggalkan jejak melalui tulisan dan penelitian, menguasai metode akademik, serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial sebagai sarana dakwah dan penyampaian gagasan kepada masyarakat.
Karena itu, berakhirnya PKU tidak boleh dimaknai sebagai selesainya perjalanan belajar. Bagi Sulfadli, justru dari titik itulah semangat menuntut ilmu, mengembangkan kapasitas diri, dan mengabdi kepada umat harus semakin kuat.
Ilmu yang diperoleh, menurutnya, tidak seharusnya berhenti pada diri peserta. Ia perlu terus dikembangkan, diamalkan, dan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk manfaat yang nyata.
Ulama Muda Harus Menjadi Pemersatu
Di antara pesan Sulfadli yang paling mendapat perhatian adalah ajakannya agar calon ulama tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.
Perbedaan pandangan, menurutnya, harus disikapi dengan ilmu dan adab. Para penuntut ilmu juga dituntut berhati-hati ketika menghukumi, berfatwa, maupun berbicara atas nama agama.
“Mari kita menjadi penyejuk, menjadi jembatan, dan menjadi bagian dari solusi bagi umat.”
Pesan itu menegaskan cara pandangnya tentang peran seorang ulama di tengah masyarakat. Ulama tidak seharusnya hadir untuk memperbesar konflik, tetapi membantu umat menemukan jalan keluar dari persoalan yang mereka hadapi.
Seruan tersebut juga menjadi salah satu bagian yang paling berkesan dalam penutupan PKU. Ketika Sulfadli menyampaikan pesannya agar penuntut ilmu tidak sibuk bertengkar dan saling menjatuhkan, Dr. K.H. Abdul Wahid Haddade, Lc., M.H.I., memberikan tepuk tangan yang kemudian diikuti para peserta.
Pesan yang Membawa Suasana Menjadi Haru
Momen penutupan kemudian bergerak dari refleksi intelektual menjadi suasana yang lebih emosional.
Pada bagian akhir penyampaiannya, Sulfadli menyampaikan permohonan maaf kepada para guru dan sesama peserta, ungkapan cinta karena Allah, serta doa agar ukhuwah yang telah tumbuh selama mengikuti PKU tetap terpelihara. Ia berharap yang berakhir hanyalah pertemuan secara fisik, bukan semangat belajar, persaudaraan, dan perjuangan untuk umat.
Suasana menjadi semakin haru ketika Dr. K.H. Yusri M. Arsyad, Lc., M.A., tampak meneteskan air mata. Sejumlah peserta menilai pesan yang disampaikan Sulfadli mewakili perasaan mereka selama mengikuti PKU, sementara sejumlah alumni PKU yang menjadi panitia menyebutnya sebagai salah satu penyampaian pesan dan kesan yang paling berkesan selama pelaksanaan program.
Meski dipercaya berbicara mewakili peserta, Sulfadli memilih merendah. Ia menyebut amanah tersebut bukan tentang dirinya seorang, melainkan tentang pengalaman yang telah dilalui bersama para peserta sepanjang program.
Bagi IAI STIBA Makassar, kehadiran alumninya di ruang kaderisasi ulama seperti PKU MUI Sulsel menjadi bagian dari perjalanan ilmu yang terus berlanjut setelah meninggalkan bangku kampus. Ilmu yang pernah ditanamkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dibawa ke ruang-ruang pengabdian, dialog keumatan, dan pembelajaran yang lebih luas.
Dari IAI STIBA Makassar hingga PKU MUI Sulsel, pesan yang dibawa Sulfadli sederhana tetapi penting: terus belajar, jaga adab dalam perbedaan, dan hadir sebagai bagian dari solusi bagi umat.

Sulfadli bukan satu-satunya alumni IAI STIBA Makassar yang menuntaskan PKU MUI Sulsel 2026. Bersamanya, terdapat empat alumni lainnya yang juga menjadi bagian dari angkatan tersebut, yakni Muh. Matori Ali Akbar, S.H., Lc. (alumni 2024), Muh. Usman, S.H. (alumni 2022), Muh. Ikhsan, S.H. (alumni 2019), dan Amirullah, S.H. (alumni 2020). Adapun Muhammad Sulfadli, S.H. merupakan alumni tahun 2022.
Kehadiran lima alumni IAI STIBA Makassar dalam satu angkatan PKU MUI Sulsel ini menunjukkan bahwa kiprah alumni kampus tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan formal. Mereka terus melanjutkan proses pengembangan keilmuan dan kaderisasi, sekaligus mengambil bagian dalam ruang-ruang pembinaan ulama dan pengabdian kepada umat.
