Makassar — Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAI STIBA Makassar secara resmi melepas 139 mahasiswa peserta Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Angkatan II pada Jumat, 12 September 2026, di Masjid Anas bin Malik IAI STIBA Makassar. Terdiri dari 45 mahasiswa dan 94 mahasiswi, mereka akan menjalani praktik lapangan selama tiga bulan di tujuh sekolah mitra kampus di Makassar, yakni SD Wahdah Islamiyah 01, SD Wahdah Islamiyah 03, SD Wihdatul Ummah, SMP Wahdah Islamiyah, SMA Wahdah Islamiyah, MTs Al-Bashirah, dan MA Al-Bashirah.
Kegiatan pelepasan diisi dengan sambutan Wakil Rektor I, Ustaz Salahuddin Guntung, Lc., M.A., Ph.D., yang menekankan pentingnya menjadikan PLP sebagai kesempatan emas—bukan sekadar beban akademik—untuk mengasah kemampuan pedagogik, membangun kepercayaan diri, dan menjaga nama baik institusi di hadapan sekolah mitra.
Acara ditutup dengan pelepasan resmi oleh Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A., Ph.D., yang menyampaikan tiga pesan utama kepada para mahasiswa.
Pertama: Jadilah Pembelajar Seumur Hidup
Rektor mengingatkan bahwa status seorang pelajar tidak berhenti meski kelak telah menjadi guru. Ia mengutip kaidah klasik bahwa menuntut ilmu berlangsung minal mihbarati ilal maqbarah—sejak pertama kali mengenal tulis-menulis hingga akhir hayat.
“Niatkan PLP ini bagian dari belajar kita. Meskipun nanti ditugaskan untuk mengajar, jangan pernah melupakan niat bahwa kita sedang belajar,” pesannya.
Kedua: Jadikan Ilmu Bernilai Manfaat
Rektor menegaskan bahwa kebermanfaatan ilmu bukan hanya diukur dari penguasaan teori, melainkan dari sejauh mana ilmu itu memberikan dampak nyata kepada orang lain. Ia mengingatkan doa yang kerap dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Allahumma inni a’udzu bika min ‘ilmin la yanfa’—perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Ia juga menyinggung tiga tingkatan kebahagiaan: pleasure yang singkat, achievement yang lebih lama, dan contribution yang paling abadi. Menurutnya, kebahagiaan sejati seorang guru lahir ketika ia mampu menularkan manfaat kepada orang lain.
Ketiga: Kuasai Materi, Metode, dan Jiwa Keguruan
Rektor menyampaikan kaidah yang masyhur di kalangan pesantren: al-maddatu muhimmah, walakinna al-tariqah ahammu minal maddah, wal-tariqatu muhimmah walakinna al-mudarris ahammu minal tariqah—materi penting, metode lebih penting, namun sosok gurunya lebih penting dari keduanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa yang paling menentukan dari seorang guru bukanlah sekadar penampilan atau metodenya, melainkan ruhul mudarris—jiwa keguruan yang tumbuh dari proses tazkiyatun nafs, pembersihan dan penyucian diri.
“Kalau antum tidak menjiwai profesi sebagai seorang pengajar, lebih baik dari awal cari pekerjaan yang lain. Saya khawatir jangan sampai antum merusaknya lebih banyak daripada memperbaikinya,” tegasnya.
Rektor menutup sambutannya dengan mengingatkan para mahasiswa untuk menjaga nama baik IAI STIBA Makassar di hadapan sekolah-sekolah mitra, mengingat ekspektasi masyarakat terhadap alumni kampus ini sangat tinggi.
