(STIBA.ac.id) Makassar — Menjelang pelaksanaan Wisuda IX Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar, Rektor berpesan kepada para calon wisudawan agar tidak memandang kelulusan sebagai akhir perjalanan. Setelah menyelesaikan berbagai tuntutan akademik, mereka kini memasuki fase baru: mengamalkan ilmu dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Pesan tersebut disampaikan dalam Ramah Tamah Wisuda IX Tahun Akademik 1447–1448 H/2025–2026 M yang dihadiri pimpinan, sivitas akademika, orang tua, serta para calon wisudawan dan wisudawati di Hotel Four Points, Makassar, Rabu malam (12/8/2026).
Dalam sambutannya, Rektor menyebut para calon wisudawan berasal dari dua program studi, yakni 312 mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab dan 108 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Wisuda kali ini juga menjadi momentum istimewa karena merupakan wisuda perdana bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab.
Sabar dan Syukur dalam Perjalanan Menuntut Ilmu
Mengawali pesannya, Rektor mengingatkan bahwa sebuah perjalanan tidak semestinya dinilai hanya dari sulitnya permulaan, melainkan dari bagaimana seseorang mampu menuntaskannya dengan baik.

Ia kemudian merangkum perjalanan mahasiswa selama berada di kampus dalam dua kata: sabar dan syukur.
Kesabaran, menurutnya, telah menemani mahasiswa dalam menuntut ilmu, menghadapi berbagai ujian, menjalani aturan dan kebijakan kampus, serta melewati beragam dinamika selama masa pendidikan. Kini, setelah sampai di penghujung masa studi, kesabaran tersebut berbuah menjadi rasa syukur.
Namun, ia mengingatkan agar kebiasaan baik yang telah dibangun selama berada di IAI STIBA Makassar tidak ikut berakhir setelah mahasiswa meninggalkan kampus.
Tradisi menjaga ilmu, salat berjemaah, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, halakah, serta berbagai pembiasaan positif lainnya diharapkan tetap menjadi bagian dari kehidupan para alumni.
Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ tentang amalan yang paling dicintai Allah, yaitu amalan yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.
Dari Menyelesaikan Skripsi Menuju Memberi Kontribusi
Rektor kemudian mengajak calon wisudawan mengubah orientasi setelah menyelesaikan pendidikan.
Jika sebelumnya pikiran mereka banyak disibukkan dengan skripsi, ujian, dan berbagai kewajiban akademik, maka setelah lulus pertanyaan yang perlu lebih sering muncul adalah: apa yang bisa diberikan kepada orang lain?
“Yang antum dan antunna harus pikirkan sekarang, apa kontribusi yang bisa diberikan untuk orang lain.”
Ia mengingatkan prinsip khairunnāsi anfa‘uhum linnās—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena itu, ilmu yang telah diperoleh tidak semestinya berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi harus berbuah menjadi pengabdian dan manfaat bagi masyarakat.
Dalam menjalani fase tersebut, para alumni juga akan menghadapi tantangan yang berbeda dan mungkin lebih besar daripada masa kuliah. Karena itu, ia berpesan agar mereka selalu meminta pertolongan kepada Allah dan tidak mudah merasa lemah.
Ketakwaan, Kebanggaan Terbesar Para Pendidik
Di antara seluruh pesan yang disampaikan, Rektor memberikan penekanan khusus pada ketakwaan.
“Ittaqillāha haitsu kunta” — Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.
Menurutnya, kebanggaan para dosen dan pembina bukan terutama ketika alumni meraih gelar atau berbagai pencapaian duniawi. Semua itu penting, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih utama: ketika ketakwaan tetap membersamai mereka di mana pun berada dan apa pun posisi yang kelak mereka tempati.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada IAI STIBA Makassar. Ia sekaligus menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses pendidikan masih terdapat kekurangan atau hasil yang belum sepenuhnya sesuai dengan harapan.
Apresiasi turut disampaikan kepada para dosen, pembina, tenaga kependidikan, hingga staf lapangan yang selama bertahun-tahun membersamai proses pendidikan dan pembinaan mahasiswa.
Kepada para calon wisudawan, ia mengucapkan selamat karena telah sampai pada salah satu titik penting perjalanan mereka.
Menutup pesannya, Rektor mengingatkan bahwa perpisahan setelah wisuda bukan berarti hubungan itu benar-benar berakhir. Ia menggambarkannya sebagai perpisahan yang justru mengumpulkan kerinduan untuk kembali bertemu.
Kini, setelah masa belajar di kampus segera usai, para calon alumni membawa amanah baru: menjaga kebaikan yang telah dibangun, mempertahankan ketakwaan, dan menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberi manfaat seluas-luasnya.
