Orang Tua Wisudawan IAI STIBA Makassar: Gelar Bukan Akhir, yang Utama Anak Tetap Dekat kepada Allah

(STIBA.ac.id) Makassar — Kebahagiaan orang tua saat melihat anak menyelesaikan pendidikan tinggi bukan hanya tentang gelar yang diraih atau ijazah yang dibawa pulang. Lebih dari itu, ada harapan besar agar ilmu yang diperoleh semakin menguatkan iman, ketakwaan, dan kedekatan seorang anak kepada Allah.

Pesan itu disampaikan Dr. H. Andi Jaman, S., M.Si., saat mewakili orang tua calon wisudawan dalam acara Ramah Tamah Wisuda IX Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar Tahun Akademik 1447–1448 H/2025–2026 M.

Di hadapan pimpinan, sivitas akademika, para orang tua, serta calon wisudawan dan wisudawati, ia mengajak hadirin melihat momentum kelulusan dari sudut pandang yang lebih dalam.

Menurutnya, hari kelulusan bukan sekadar penanda selesainya tugas, ujian, hafalan, dan berbagai perjuangan selama masa kuliah. Bagi orang tua, momentum itu juga menjadi jawaban atas sebagian kekhawatiran mengenai masa depan anak.

Namun, kekhawatiran tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pekerjaan, karier, ataupun keberhasilan materi.

Kekhawatiran Terbesar Orang Tua

Andi Jaman mengingatkan kisah Nabi Ya‘qub alaihisalam yang diabadikan dalam Surah al-Baqarah ayat 133. Menjelang akhir kehidupannya, Nabi Ya‘qub mempertanyakan kepada anak-anaknya siapa yang akan mereka sembah setelah dirinya tiada.

Dari kisah tersebut, ia mengajak para orang tua merenungkan satu pertanyaan penting setelah anak-anak mereka menjadi sarjana.

“Apakah anak kita ini setelah dikukuhkan menjadi sarjana, apakah dia tetap hubungannya dekat kepada Allah?”

Menurutnya, kekhawatiran seperti inilah yang seharusnya turut menyertai rasa bangga orang tua terhadap pencapaian akademik anak. Pendidikan tidak cukup jika hanya menghasilkan keberhasilan duniawi, tetapi meninggalkan aspek iman dan kehidupan rohani.

Ia kemudian mengingatkan bahwa anak yang memiliki ketakwaan, tauhid, dan akidah yang kuatlah yang menjadi harapan besar bagi orang tua, bukan semata-mata anak dengan gelar tinggi atau karier yang mapan.

Wisuda Bukan Akhir Perjalanan

Kepada para calon wisudawan, ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir.

“Perjalanan Anda belum berakhir pada titik ini. Ini baru permulaan.”

Menurutnya, setelah resmi menyandang gelar sarjana, tantangan sebenarnya justru dimulai. Ilmu yang telah diperoleh selama kuliah perlu diterapkan dalam kehidupan dan diwujudkan dalam sikap, akhlak, serta pengabdian.

Sebagai orang tua sekaligus seorang dosen, ia mengatakan bahwa kebahagiaan seorang pendidik bukan semata-mata melihat mahasiswa memperoleh gelar, tetapi menyaksikan mereka tetap berada dalam iman dan ketakwaan dalam berbagai kondisi kehidupan.

“Kami Tidak Bertransaksi dengan Anak”

Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam pesannya adalah ketika ia menggambarkan pengorbanan orang tua dalam mendidik anak.

Ia mengibaratkan kebahagiaan melihat anak diwisuda seperti seorang ibu yang setelah melalui sakitnya proses persalinan, seakan melupakan seluruh rasa sakit itu ketika melihat anaknya lahir dengan selamat.

Begitu pula orang tua yang selama bertahun-tahun membiayai pendidikan anak, mendoakan, dan mendampingi perjalanan mereka sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Seluruh kerepotan itu, katanya, seakan terbayar ketika melihat anak berhasil menyelesaikan pendidikan.

“Tidak ada ceritanya orang tua meminta balik berapa uang yang sudah saya keluarkan, berapa sapi yang saya sudah jual untuk kamu bisa ujian. Tidak pernah. Karena kita dengan anak kita tidak bertransaksi.”

Baginya, melihat anak berhasil diwisuda saja sudah menjadi kebahagiaan besar bagi orang tua. Setelah itu, harapan mereka adalah agar anak mampu melanjutkan kebaikan dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam keluarga maupun masyarakat.

Terima Kasih kepada Para Pendidik

Dalam kesempatan tersebut, Andi Jaman juga menyampaikan apresiasi kepada Rektor, jajaran pimpinan, para ustaz dan ustazah, dosen, pembina, serta seluruh sivitas akademika IAI STIBA Makassar.

Ia menilai proses pendidikan yang dijalani mahasiswa di kampus tidak hanya berupa transfer of knowledge, tetapi juga penanaman akhlak dan nilai-nilai kehidupan.

Atas nama para orang tua, ia menyampaikan terima kasih atas kesabaran dan pengorbanan para pendidik dalam membina mahasiswa selama menjalani masa studi.

Ia berharap nilai-nilai tersebut menjadi pegangan para lulusan dalam menjalani kehidupan setelah meninggalkan kampus.

Pada akhirnya, pesan orang tua dalam malam Ramah Tamah itu mengingatkan bahwa di balik toga dan gelar sarjana, ada doa yang panjang, pengorbanan yang tidak dihitung, serta satu harapan yang jauh lebih besar daripada sekadar kesuksesan dunia: agar anak-anak tetap berjalan dalam iman dan ketakwaan kepada Allah.