(STIBA.ac.id) Makassar — Ketua Senat Akademik Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar, Ustaz Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A., Ph.D., mengingatkan para calon wisudawan bahwa berakhirnya masa kuliah bukan berarti berakhir pula kesempatan untuk berlomba dalam kebaikan dan prestasi.
Pesan tersebut disampaikan dalam tausiah pada Ramah Tamah Wisuda IX IAI STIBA Makassar Tahun Akademik 1447–1448 H/2025–2026 M di Hotel Four Points, Makassar, pada Rabu malam (12/8/2026), di hadapan para calon wisudawan, orang tua, pimpinan, serta sivitas akademika.
Mengawali tausiahnya, Ustaz Muhammad Yusran mengajak para calon wisudawan untuk memperbanyak pujian dan rasa syukur kepada Allah atas keberhasilan mereka menyelesaikan pendidikan.
Ia mengutip firman Allah,
“Alhamdulillāhilladzī hadānā lihādzā wa mā kunnā linahtadiya laulā an hadānallāh.”
Menurutnya, keberhasilan sampai pada titik kelulusan pertama-tama harus dikembalikan kepada taufik dan hidayah Allah.
Para mahasiswa, lanjutnya, datang dari latar belakang dan kondisi yang berbeda. Ada yang mendapatkan dukungan penuh, ada yang menghadapi keterbatasan ekonomi, ada yang merasa kemampuan akademiknya biasa saja, dan ada pula yang menghadapi berbagai persoalan selama menempuh pendidikan.
Namun pada akhirnya, Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan perjalanan tersebut hingga berada di ambang wisuda.

Kompetisi Belum Berakhir
Ustaz Muhammad Yusran kemudian mengingatkan bahwa manusia terus berpindah dari satu fase kehidupan menuju fase berikutnya.
Para calon wisudawan memang telah melewati salah satu fase penting, yakni masa menuntut ilmu di kampus. Namun, di depan mereka masih terbentang perjalanan yang lebih panjang dengan tantangan yang berbeda.
Karena itu, pencapaian selama kuliah tidak boleh menjadi titik akhir.
“Tanafus kita belum berakhir. Tanafus baru berakhir setelah kita dipanggil oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”
Ia berpesan kepada mereka yang merasa belum memiliki pencapaian akademik terbaik agar tidak berkecil hati. Masih terbuka banyak ruang untuk memberikan kontribusi dan meraih prestasi melalui dakwah serta pengabdian kepada umat.
“Jika ada di antara antum yang kalah dalam persoalan prestasi akademik, jangan antum mau kalah dalam prestasi dakwah dan kiprah antum untuk umat.”
Sementara kepada mereka yang telah memiliki prestasi baik selama menjadi mahasiswa, ia mengingatkan agar capaian tersebut dipertahankan dan dikembangkan pada fase kehidupan berikutnya.
Tugas Orang Tua Belum Selesai
Pesan dalam tausiah tersebut tidak hanya ditujukan kepada calon wisudawan.
Kepada para orang tua, Ustaz Muhammad Yusran menyampaikan apresiasi atas perjuangan mereka menjaga, mendidik, mengarahkan, dan mendukung anak-anak hingga berhasil menyelesaikan pendidikan.
Namun, menurutnya, tugas orang tua tidak otomatis selesai ketika anak telah dewasa, menyandang gelar sarjana, bahkan ketika kelak mereka telah menikah.
Ia kembali mengingatkan kisah Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam yang hingga penghujung kehidupannya masih memikirkan kondisi keimanan anak-anaknya.
Karena itu, para orang tua diminta terus mendampingi, mendoakan, serta mendukung anak-anak dalam kebaikan.
Terlebih, para lulusan IAI STIBA Makassar akan memasuki fase untuk menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang telah mereka peroleh.
Ia menggambarkan pengamalan ilmu tersebut sebagai “zakat ilmu”. Para orang tua, menurutnya, memiliki bagian besar dari pahala kebaikan yang kelak dilakukan anak-anak mereka karena perjuangan dan dukungan yang telah diberikan selama masa pendidikan.
Berpisah untuk Menunaikan Amanah
Menjelang akhir tausiahnya, Ustaz Muhammad Yusran mengangkat makna pertemuan dan perpisahan karena Allah.
Selama bertahun-tahun, mahasiswa dan para pendidik dipertemukan dalam suasana menuntut ilmu dan pembinaan. Setelah wisuda, kebersamaan itu akan berubah ketika para alumni kembali ke daerah masing-masing dan memasuki medan pengabdian.
Ia menjelaskan bahwa perpisahan semacam itu dapat dimaknai sebagai berpisah karena Allah: berpisah bukan karena putusnya hubungan, tetapi karena masing-masing harus membawa ilmu dan menunaikan amanah dakwah di tempat yang berbeda.
Ia kemudian mengingatkan kisah Rasulullah ﷺ ketika melepas Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk menjalankan tugas dakwah. Meski diliputi rasa cinta dan beratnya perpisahan, amanah ilmu tetap harus ditunaikan.
Demikian pula para lulusan IAI STIBA Makassar. Perpisahan dengan kampus diharapkan menjadi awal tersebarnya manfaat ilmu ke berbagai tempat dan lapisan masyarakat.
Kepada seluruh sivitas akademika, Ustaz Muhammad Yusran juga mengingatkan agar tidak merasa sebagai pihak yang paling berjasa terhadap keberhasilan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa yang bersedia menerima pendidikan, nasihat, dan pembinaan justru telah membuka kesempatan bagi para pendidik untuk menanam kebaikan dan memperoleh pahala.
Ia menutup tausiahnya dengan harapan agar ukhuwah yang telah terjalin selama masa pendidikan tetap terjaga meski nantinya para alumni tersebar di berbagai tempat.
Perpisahan setelah wisuda pun bukan dipandang sebagai akhir kebersamaan, tetapi sebagai awal dari amanah baru: membawa ilmu, melanjutkan dakwah, dan berlomba memberikan manfaat hingga akhir kehidupan.
