Tiga Jam Menembus Longsor Menuju Mbay, Alumnus IAI STIBA Makassar Dampingi Warga Korban Gempa NTT

(STIBA.ac.id) Nagekeo Tiga jam perjalanan dari Ende menuju Mbay membawa Ahmad bin Suardi pada pemandangan yang sulit dilupakan. Rumah-rumah rusak, warga memilih bertahan di luar bangunan, sementara sebagian lainnya mengungsi ke daerah yang lebih tinggi karena khawatir gempa susulan kembali mengguncang.

Di tengah listrik yang padam dan jaringan komunikasi yang belum stabil, alumnus IAI STIBA Makassar itu tiba bersama tim relawan untuk menjangkau warga terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

“Yang paling membuat saya tersentuh adalah melihat warga memilih berada di luar rumah. Ada yang membuat tempat istirahat seadanya, bahkan ada yang mengungsi ke daerah yang lebih tinggi karena takut terjadi gempa susulan,” tutur Ahmad.

Ahmad merupakan alumnus Program Studi Perbandingan Mazhab IAI STIBA Makassar tahun 2024. Putra asal Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat itu saat ini menjalani pengabdian di DPD Wahdah Islamiyah Ende, NTT. Di sela amanah pengabdiannya, ia juga terlibat sebagai relawan Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ).

Bergerak pada Hari Gempa

Gempa kuat mengguncang wilayah Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. BMKG mencatat gempa terjadi pukul 04.58 WIB dengan magnitudo 7,7. Pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.

Pada hari yang sama, Ahmad dan tim berkoordinasi dan bergerak dari Ende menuju Mbay.

Perjalanan yang dalam kondisi normal memakan waktu sekitar tiga jam itu tidak sepenuhnya mudah. Di sejumlah bagian perjalanan, mereka harus menghadapi dampak longsor. Komunikasi pun menjadi kendala karena jaringan belum stabil, sementara informasi mengenai titik-titik yang paling membutuhkan bantuan masih terbatas.

“Sepanjang perjalanan kami berusaha melewati tanah longsor dan kesulitan mendapatkan informasi mengenai titik-titik yang paling terdampak karena komunikasi cukup sulit,” ujarnya.

Semakin mendekati wilayah terdampak, gambaran bencana mulai terlihat lebih nyata.

Warga berada di luar rumah. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan. Sebagian masyarakat bahkan tidak berani lagi kembali masuk ke rumah mereka.

Bukan hanya mereka yang rumahnya rusak berat. Warga yang rumahnya masih berdiri pun memilih bermalam di tempat terbuka karena khawatir guncangan berikutnya datang saat mereka sedang terlelap.

“Yang paling mereka takutkan adalah gempa susulan yang sering berulang, khususnya pada malam hari. Meskipun gempa utama sudah berlalu, rasa takutnya belum hilang,” kata Ahmad.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hingga Ahad, 16 Agustus 2026, BNPB mencatat ratusan gempa susulan setelah gempa utama. Pada saat yang sama, sekitar 500 warga dilaporkan mengungsi di Kabupaten Nagekeo.

Bukan Hanya Makanan, Warga Membutuhkan Rasa Aman

Setibanya di lokasi, Ahmad dan tim tidak langsung membagikan bantuan. Mereka lebih dahulu melakukan asesmen sederhana, mendatangi warga, dan mencari informasi mengenai kebutuhan yang paling mendesak.

Dari sana, tim mulai membeli dan menyalurkan makanan serta air bagi warga terdampak.

Salah satu titik yang menjadi lokasi pelayanan berada di halaman Masjid Agung Baiturrahman, Kelurahan Mbay I, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Ahmad menyebut sekitar 60 kepala keluarga atau kurang lebih 100 jiwa telah dijangkau dalam penyaluran awal tersebut.

Namun, apa yang ditemuinya membuat Ahmad menyadari bahwa persoalan warga tidak berhenti pada kebutuhan makan dan minum.

“Waktu itu terasa sekali bahwa yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan makanan, tetapi juga rasa aman,” ungkapnya.

Listrik PLN yang masih padam di sejumlah wilayah membuat malam terasa lebih berat. Warga yang memilih bertahan di luar rumah harus mengandalkan penerangan seadanya. Sementara itu, jaringan telekomunikasi yang tidak stabil menyulitkan relawan berkomunikasi dan mengirimkan laporan dari lapangan.

Kerusakan bangunan juga terlihat di berbagai titik. Dalam laporan lapangannya, Ahmad menyebut banyak rumah mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak dihuni.

Salah satu bangunan yang dilaporkan terdampak adalah Masjid Nurrahman di Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Keberadaan Masjid Nurrahman di Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, juga tercatat dalam informasi Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

Di sisi lain, masih terdapat titik-titik terdampak yang menurut Ahmad belum sempat dijangkau.

Wilayah bencana yang tersebar, jarak antarlokasi, serta terganggunya jaringan komunikasi membuat informasi mengenai kondisi warga diterima secara bertahap. Sebagian informasi bahkan baru diperoleh dari warga dan sesama relawan.

“Karena itu, kemungkinan masih ada masyarakat terdampak yang belum terdata dan belum menerima bantuan,” tuturnya.

Ketika Pengabdian Tidak Lagi Hanya Berarti Mengajar

Bagi Ahmad, perjalanan menuju Mbay kali ini memberikan makna lain tentang pengabdian.

Ia datang ke Nusa Tenggara Timur sebagai seorang alumnus yang menjalankan tugas pengabdian. Namun bencana mempertemukannya dengan bentuk pengabdian yang berbeda: bukan berada di depan kelas atau di atas mimbar, melainkan hadir di tengah masyarakat yang sedang kehilangan rasa aman.

“Bagi saya, ilmu yang kami dapatkan selama di IAI STIBA Makassar bukan hanya untuk disampaikan di mimbar atau ruang belajar. Ada saatnya ilmu itu diwujudkan dengan hadir langsung membantu masyarakat,” ujarnya.

Ada pula perasaan tidak berdaya ketika melihat kebutuhan masyarakat jauh lebih besar dibandingkan kemampuan yang dimiliki para relawan.

“Yang paling berat adalah melihat anak-anak, orang tua, dan keluarga harus tidur di luar rumah karena takut masuk kembali ke rumah mereka. Ada perasaan ingin membantu lebih banyak, sementara kemampuan dan bantuan yang kami bawa tentu terbatas,” katanya.

Pengalaman itu membuat pemahamannya tentang pengabdian semakin luas.

“Dulu ketika belajar di STIBA, kami sering mendengar bahwa seorang dai harus hadir dan memberi manfaat di tengah masyarakat. Ketika berada di lokasi seperti ini, saya semakin memahami makna itu.”

Menurutnya, pengabdian tidak selalu berbentuk ceramah atau kegiatan belajar-mengajar.

“Kadang pengabdian berarti menempuh perjalanan berjam-jam, membawa bantuan, mendengar keluhan masyarakat, atau sekadar menemani mereka ketika sedang takut,” lanjutnya.

Ahmad pun berharap masyarakat di luar NTT tidak melupakan warga yang hingga kini masih menghadapi dampak bencana.

“Di beberapa tempat mungkin kondisinya tidak banyak terlihat di media, tetapi di lapangan masih ada keluarga yang rumahnya rusak, masih tidur di luar, dan membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat mendoakan para penyintas agar diberi kekuatan dan kemudahan melewati masa pemulihan.

“Mohon doanya agar Allah menjaga mereka, memberikan kesabaran, dan memudahkan proses pemulihan. Kalau ada yang memiliki kemampuan untuk membantu, sekecil apa pun insyaallah sangat berarti bagi masyarakat di sini.”

Bagi masyarakat yang ingin turut membantu para penyintas gempa Flores melalui Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ), donasi dapat disalurkan melalui rekening berikut:

  • BSI: 497 900 900 9
    a.n. Wahdah Inspirasi Zakat
  • Bank Muamalat: 801 004 83 67
    a.n. Wahdah Inspirasi Zakat
  • BCA Syariah: 071 3900 900
    a.n. Yayasan Wahdah Inspirasi Zakat

Donasi juga dapat disalurkan melalui laman: https://donasi.wiz.or.id/pbk

Di tengah rumah-rumah yang rusak dan warga yang masih diliputi kekhawatiran, Ahmad menemukan kembali satu pelajaran yang dahulu ia terima di bangku kuliah: ilmu tidak berhenti ketika disampaikan. Ia menemukan maknanya ketika hadir menjadi manfaat bagi manusia.