Libur Kuliah, Dua Saudari Kembar Memilih Mengabdi di Pondok Pesantren

(STIBA.ac.id) Gowa — Masa liburan kuliah tidak selalu identik dengan beristirahat atau menghabiskan waktu di rumah. Bagi saudara kembar Nur Atia dan Nur Aini, dua mahasiswi semester lima IAI STIBA Makassar, liburan justru menjadi kesempatan untuk belajar mengabdi dan membagikan ilmu yang telah mereka peroleh di bangku kuliah.

Selama lebih dari satu bulan, keduanya mengabdikan diri sebagai pengajar di Rumah Quran Miftahul Jannah, Desa Moncobalang, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa.

Yang menarik, kehadiran keduanya bukan karena permintaan dari pihak Rumah Quran. Nur Atia dan Nur Aini sendiri yang berinisiatif mengajukan diri untuk mengajar. Mereka ingin memanfaatkan masa liburan untuk mendapatkan pengalaman sekaligus melatih kemampuan dalam membimbing dan mendidik anak-anak.

Di Rumah Quran Miftahul Jannah, keduanya terlibat langsung dalam pembinaan terhadap 85 santri. Mereka membantu mengajar tahsin Al-Qur’an, membimbing hafalan, memberikan pembinaan adab, mendampingi berbagai kegiatan santri, hingga membantu menjaga kondisi kelas agar pembelajaran tetap kondusif.

Bagi keduanya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mulai menerapkan ilmu yang selama ini diperoleh di kampus.

“Apa yang saya dapatkan di IAI STIBA Makassar adalah ilmu agama yang bisa saya ajarkan di masyarakat,” ungkap salah seorang dari mereka.

Senyum Santri di Tengah Hafalan

Mengajar anak-anak juga menghadirkan pengalaman tersendiri. Di antara berbagai aktivitas yang dijalani, ada pemandangan sederhana yang justru paling membekas: melihat anak-anak bersemangat belajar dan menghafalkan Al-Qur’an.

“Saya sangat terkesan selama mengajar, melihat adik-adik tersenyum sambil menghafal satu huruf per huruf,” tuturnya.

Lebih dari sebulan membersamai para santri membuat Nur Atia dan Nur Aini tidak sekadar hadir sebagai pengajar. Keduanya perlahan membangun kedekatan dengan anak-anak. Kehadiran mereka pun menjadi sesuatu yang disenangi dan dinantikan para santri.

Pimpinan Rumah Quran Miftahul Jannah, Ustaz Muh. Ali, S.H., mengakui semangat keduanya selama menjalankan pengabdian.

“Saya menilai dua mahasiswi tersebut sangat bersemangat ketika mengajar anak-anak. Walaupun sebenarnya masih membutuhkan pengembangan diri, saya yakin para asatidzah dan ustadzat di STIBA akan membimbing mereka,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran Nur Atia dan Nur Aini juga memberi bantuan nyata bagi proses pembelajaran. Rumah Quran Miftahul Jannah saat ini hanya memiliki dua orang pengajar sehingga pengelolaan kelas, terutama dengan jumlah santri yang cukup banyak, menjadi tantangan tersendiri.

“Kontribusi yang paling terasa adalah membantu mengontrol kondisi ruang kelas. Pengajar di Rumah Quran saat ini hanya dua orang, sehingga cukup sulit untuk menjaga kondusivitas kelas. Dengan adanya mereka, alhamdulillah sangat membantu dan mampu meredam suasana kelas,” jelasnya.

Ia menambahkan, para santri memberikan respons positif terhadap kedua mahasiswa tersebut.

“Respons santri sangat senang ketika mereka diajar oleh dua mahasiswa tersebut. Kehadiran mereka mendapat sambutan yang baik dari anak-anak,” katanya.

Semangat Anak, Dukungan Sang Ayah

Di balik rutinitas mengajar tersebut terselip cerita sederhana tentang dukungan keluarga.

Nur Atia dan Nur Aini berasal dari Takalar. Karena belum dapat mengendarai sepeda motor sendiri, keterbatasan transportasi sebenarnya dapat menjadi penghalang untuk menjalani aktivitas pengabdian di Rumah Quran yang berada di Kabupaten Gowa.

Namun, semangat keduanya untuk tetap mengajar mendapat dukungan dari sang ayah. Ia bersedia mengantar mereka agar tetap dapat hadir membersamai para santri.

Perjalanan itu menjadi bagian kecil tetapi bermakna dari pengabdian keduanya: semangat anak-anak muda untuk membagikan ilmu bertemu dengan dukungan orang tua yang membantu membuka jalan agar kebaikan tersebut tetap berjalan.

Kini, masa liburan segera berakhir dan keduanya harus kembali menjalani aktivitas perkuliahan di IAI STIBA Makassar. Setelah lebih dari satu bulan bersama, perpisahan tentu meninggalkan kerinduan tersendiri bagi para santri yang telah terbiasa dengan kehadiran dua kakak pengajar tersebut.

Bagi Ustaz Muh. Ali, pengalaman singkat itu bahkan melahirkan sebuah harapan.

“Sangat membantu tenaga pengajar. Harapan kami, semoga nanti mereka bisa mengabdikan diri selamanya di Rumah Quran kami,” ujarnya.

Pengabdian Nur Atia dan Nur Aini mungkin berlangsung hanya selama masa liburan. Namun, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang berbeda: ketika ilmu yang diperoleh di ruang kuliah mulai diuji manfaatnya di tengah masyarakat.

Dari sebuah Rumah Quran di pelosok Kabupaten Gowa, keduanya mulai belajar bahwa ilmu tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk diajarkan dan dihadirkan manfaatnya bagi orang lain.

纸飞机

搜狗输入法下载

快连VPN

安卓模拟器下载

Telegram中文

Telegram中文

电报

Telegram下载

wps下载

有道

1