Kopertais Dorong IAI STIBA Makassar Menuju Universitas, Siap Rekomendasikan Prodi Baru

(STIBA.ac.id) Makassar Perjalanan Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar dari sekolah tinggi menjadi institut mendapat apresiasi sekaligus tantangan baru dari Kopertais Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kampus ini didorong untuk segera mempersiapkan berbagai instrumen yang dibutuhkan menuju perubahan bentuk menjadi universitas.

Dorongan itu disampaikan Sekretaris Kopertais Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua, Dr. H. Nur Taufik Sanusi, M.Ag., saat memberikan sambutan pada Wisuda IX IAI STIBA Makassar di Four Points by Sheraton Makassar, Kamis (13/8/2026). Ia hadir mewakili Koordinator Kopertais Wilayah VIII.

Menariknya, Kiai Nur Taufik mengawali pesannya dengan mengenang kehadirannya pada wisuda IAI STIBA dua tahun sebelumnya. Saat itu, STIBA masih berstatus sekolah tinggi.

Ia mengaku pernah berharap agar wisuda tersebut menjadi terakhir kalinya ia hadir ketika pimpinan STIBA masih bergelar ketua. Harapan itu kini terwujud setelah STIBA Makassar resmi bertransformasi menjadi institut dan dipimpin seorang rektor.

“Omongan saya dua tahun lalu terbukti hari ini. Alhamdulillah,” ujarnya.

Ia pun melontarkan harapan berikutnya: suatu saat dirinya kembali menghadiri wisuda ketika pimpinan kampus bukan lagi Rektor Institut, melainkan Rektor Universitas.

Karena itu, ia mendorong Rektor dan seluruh jajaran IAI STIBA Makassar untuk mulai mempersiapkan instrumen yang dibutuhkan menuju tahap tersebut.

Tinggal Lengkapi Sejumlah Instrumen

Dalam sambutannya, Kiai Nur Taufik memaparkan sejumlah hal yang menurutnya perlu diperhatikan untuk menuju bentuk universitas.

Ia menyebut kebutuhan jumlah program studi, mahasiswa, dosen berkualifikasi doktor, hingga lektor kepala. Dari sejumlah unsur yang ia paparkan, jumlah mahasiswa dan dosen bergelar doktor dinilainya telah melampaui kebutuhan yang disebutkannya.

Sementara itu, aspek yang masih perlu diperkuat adalah penambahan program studi dan jumlah lektor kepala.

“Saya kira tinggal sedikit, tinggal lektor kepala dan membuka satu program studi,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan pada jenjang lektor kepala tidak hanya dihadapi IAI STIBA Makassar. Ia menyebut jumlah lektor kepala di antara sekitar 70 perguruan tinggi dalam lingkup Kopertais Wilayah VIII masih sangat terbatas.

Ia juga mengingatkan bahwa dua tahun sebelumnya dirinya pernah menyebut STIBA sebagai salah satu perguruan tinggi yang sehat di antara perguruan tinggi dalam koordinasi Kopertais Wilayah VIII. Saat itu, menurutnya, salah satu hal yang masih menjadi catatan hanyalah status kelembagaannya yang masih berupa sekolah tinggi. Kini, status tersebut telah meningkat menjadi institut.

Beri Opsi Prodi Baru

Untuk memenuhi kebutuhan pengembangan program studi, Kiai Nur Taufik turut memberikan sejumlah opsi yang bisa dipertimbangkan IAI STIBA Makassar.

Salah satu bidang yang ia dorong adalah pendidikan Islam anak usia dini. Menurutnya, pendidikan anak sejak usia dini dengan fondasi keislaman memiliki posisi strategis dalam membangun generasi pada masa mendatang.

Selain itu, ia juga menyinggung Hukum Keluarga sebagai opsi pengembangan. Menurutnya, persoalan keluarga dan tingginya angka perceraian menunjukkan pentingnya penguatan pendidikan serta keilmuan pada bidang tersebut.

Lebih jauh, Kiai Nur Taufik menyatakan kesiapannya mendukung proses pengusulan program studi baru.

“Saya tunggu proposalnya untuk kita buatkan rekomendasi, khususnya pada akhir tahun ini,” katanya.

Ia bahkan menegaskan bahwa ketika kesempatan pengusulan program studi baru dibuka, Rektor IAI STIBA Makassar akan menjadi salah satu pihak pertama yang dihubunginya terkait penambahan prodi.

Pernah Disebut Salah Satu Perguruan Tinggi Paling Sehat

Di hadapan wisudawan dan tamu undangan, Kiai Nur Taufik juga mengungkap penilaiannya terhadap perjalanan kelembagaan STIBA.

Ia mengenang bahwa dua tahun lalu dirinya menyebut STIBA sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling sehat di antara sekitar 70 perguruan tinggi dalam koordinasi Kopertais Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Saat itu, ia menyebut STIBA sebagai perguruan tinggi yang tidak memiliki persoalan berarti dalam pengelolaannya, tetapi masih berstatus sekolah tinggi. Harapannya agar STIBA berkembang menjadi institut akhirnya terwujud.

Kini, tantangan yang ia berikan bergerak satu tingkat lebih tinggi: menuju universitas.

Gelar Harus Berjalan Bersama Iman dan Akhlak

Selain berbicara tentang pengembangan institusi, Kiai Nur Taufik juga menyampaikan pesan khusus kepada para wisudawan dan wisudawati.

Ia mendorong para lulusan untuk terus belajar. Jika memiliki kesempatan, mereka dianjurkan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Namun, ia mengingatkan bahwa proses belajar tidak selalu harus berlangsung di bangku kuliah.

Ia secara khusus mengajak para alumni untuk terus dekat dengan Al-Qur’an dan menjaga proses belajar sepanjang kehidupan.

Menurutnya, ilmu dan gelar akademik harus berjalan beriringan dengan iman, moral, dan akhlak yang baik.

Ia mengingatkan bahwa tingginya ilmu dan banyaknya gelar tidak akan menjadi ukuran kemuliaan apabila tidak disertai dengan akhlak dan keimanan.

“Hari ini adik-adik sudah mendapatkan ilmunya, ditandai dengan gelar yang menempel pada namanya. Tapi jangan lupa untuk selalu memiliki akhlak, moral, dan iman yang baik,” pesannya.

Ia kemudian meminta para wisudawan untuk tidak melupakan orang tua yang telah mengiringi perjalanan pendidikan mereka dengan doa dan kerja keras.

Menutup sambutannya, Kiai Nur Taufik mengulang pesan yang dahulu sering disampaikan ayahnya, Anregurutta Sanusi Baco rahimahullah dalam bahasa Bugis yang artinya: keberhasilan seorang anak pada akhirnya bukan hanya diukur dari pangkat, jabatan, maupun harta, tetapi dari akhlak yang ditunjukkan kepada orang tuanya.