(STIBA.ac.id) Makassar — Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Rektor Institut Agama Islam STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A., Ph.D., mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan lebih jauh dari sekadar terbebas dari penjajahan secara fisik. Menurutnya, kemerdekaan yang hakiki juga harus hadir dalam tiga dimensi kehidupan: hati, jasmani, dan ekonomi.
Refleksi tersebut ditulis Rektor IAI STIBA Makassar pada Senin, 17 Agustus 2026, di atas KM Dorolonda dalam perjalanan menuju Jakarta bersama ribuan pengurus, kader, dan simpatisan Wahdah Islamiyah dari berbagai wilayah Indonesia Timur untuk menghadiri Muktamar V Wahdah Islamiyah.
Dua momentum itu—81 tahun Indonesia merdeka dan penyelenggaraan Muktamar V Wahdah Islamiyah—menjadi ruang muhasabah baginya tentang makna kemerdekaan dan kontribusi umat Islam dalam membangun bangsa.
Dalam tulisannya, ia mengingatkan bahwa kata “merdeka” tidak cukup dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, perbudakan, atau tekanan. Dalam perspektif pembangunan peradaban, kemerdekaan harus mampu membebaskan manusia dari berbagai bentuk keterjajahan yang mengikat hati, melemahkan jasmani, dan membuat kehidupan ekonomi kehilangan kemandirian.
Gagasan tersebut sejalan dengan tagline Muktamar V Wahdah Islamiyah, “Salam Sehat Indonesia: Sehat Hati, Sehat Jasmani, Sehat Ekonomi.”
Menurut Rektor, tiga unsur tersebut bukan sekadar slogan, tetapi dapat menjadi kerangka dalam membangun manusia dan peradaban yang kuat.
Sehat Hati, Kemerdekaan Tertinggi
Dimensi pertama yang ditekankan adalah kesehatan hati. Rektor menyebut hati sebagai pusat komando manusia. Karena itu, kualitas hati akan sangat menentukan arah pikiran, sikap, dan perilaku seseorang.
Sehat hati, menurutnya, dimulai dari akidah dan tauhid yang lurus, yaitu membebaskan diri dari penghambaan kepada selain Allah.
Kemerdekaan hati juga berarti membersihkan jiwa dari berbagai penyakit seperti hasad, dengki, riya, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia. Selain itu, manusia perlu membebaskan dirinya dari dominasi hawa nafsu dan godaan setan sehingga orientasi hidupnya tertuju kepada Allah dan menuju qalbun salim, hati yang selamat.
“Merdeka dari penjajah adalah nikmat. Tapi jika hati tetap terjajah oleh penyakit, maka kita hanya berpindah dari satu penjara ke penjara lain,” tulisnya.
Menurutnya, bangsa yang mengalami persoalan pada dimensi hati akan mudah mengalami perpecahan dan kehilangan kekuatan dari dalam. Karena itu, kemerdekaan bangsa harus berjalan bersama dengan pembinaan iman, akhlak, dan jiwa masyarakat.
Sehat Jasmani, Modal Kekuatan Umat
Selain hati, Rektor IAI STIBA Makassar menempatkan kesehatan jasmani sebagai salah satu modal penting dalam membangun umat dan bangsa.
Ia menegaskan bahwa tubuh yang sehat mendukung optimalnya ibadah, dakwah, serta produktivitas seseorang dalam menjalankan tanggung jawab kehidupan.
“Tidak ada ibadah maksimal tanpa tubuh yang sehat. Tidak ada dakwah yang kuat tanpa fisik yang tangguh. Tidak ada bangsa yang disegani tanpa generasi yang kuat,” ungkapnya.
Dalam refleksinya, ia juga menyinggung dua keadaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk dihindari, yaitu al-‘ajz atau kelemahan dan al-kasal atau kemalasan.
Karena itu, menurutnya, bangsa yang besar perlu membangun budaya hidup sehat melalui olahraga, pemenuhan gizi, disiplin, serta produktivitas.
Generasi yang sehat dan kuat, lanjutnya, bukan hanya memiliki manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan dan kehormatan sebuah bangsa.
Sehat Ekonomi, Jalan Menuju Kemandirian
Pilar ketiga adalah kesehatan ekonomi. Menurut Rektor, sejarah menunjukkan bahwa sebuah peradaban sulit berdiri kokoh tanpa memiliki kemandirian ekonomi.
Sehat ekonomi tidak hanya berbicara tentang jumlah kekayaan, tetapi juga berkaitan dengan cara memperoleh, mengelola, dan mendistribusikan harta.
Ia menekankan pentingnya pendapatan yang bersumber dari usaha halal dan terbebas dari riba, korupsi, serta penipuan. Pengelolaan ekonomi juga harus dilakukan secara profesional, transparan, akuntabel, serta berbasis data dan ilmu.
Di sisi lain, distribusi ekonomi harus diarahkan kepada kemaslahatan bersama agar kekayaan tidak hanya berputar pada kelompok tertentu.
“Orang yang hidup dari hasil haram sejatinya sedang memenjarakan dirinya sendiri. Bangsa yang ekonominya rapuh, kedaulatannya akan mudah dibeli,” tulisnya.
Karena itu, kemerdekaan ekonomi menjadi bagian penting dari kedaulatan bangsa. Kemandirian ekonomi diharapkan mampu membuat masyarakat lebih berdaya sekaligus mengurangi ketergantungan kepada pihak lain.
Kemerdekaan Harus Diwujudkan dalam Kehidupan
Dalam momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Rektor IAI STIBA Makassar menilai bahwa tugas generasi hari ini tidak berhenti pada menjaga warisan Proklamasi 17 Agustus 1945.
Kemerdekaan juga perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui lahirnya masyarakat yang sehat hati, kuat secara jasmani, dan mandiri secara ekonomi.
Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang lahir dan tumbuh di Indonesia, Wahdah Islamiyah, menurutnya, turut memikul tanggung jawab dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan bangsa.
Upaya tersebut tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi, kader yang terdidik, pemberdayaan umat, serta kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan masyarakat.
Dalam perjalanan melintasi laut menuju Jakarta, suasana kebersamaan bersama ribuan peserta Muktamar V Wahdah Islamiyah semakin menguatkan refleksinya tentang mahalnya harga sebuah kemerdekaan.
“Kemerdekaan itu mahal. Dijemput dengan darah. Maka jangan kita sia-siakan dengan hati yang kotor, badan yang lemah, dan ekonomi yang bergantung,” pesannya.
Ia pun menutup refleksinya dengan harapan agar Muktamar V Wahdah Islamiyah melahirkan langkah-langkah besar yang memberi kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia.
“Dirgahayu Indonesiaku yang ke-81. Selamat bermuktamar Wahdah Islamiyah ke-5. Semoga dari muktamar ini lahir langkah-langkah besar untuk Indonesia yang benar-benar merdeka: merdeka hati, merdeka jasmani, merdeka ekonomi.”
