(STIBA.ac.id) Makassar – Himpunan Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Himataf) IAI STIBA Makassar kembali menorehkan sejarah dalam perjalanan organisasinya. Setelah resmi terbentuk melalui Muktamar I, kepengurusan perdana Himataf periode 2026–2027 M / 1448–1449 H resmi dikukuhkan pada 6 Juli 2026 di Gedung Rektorat Lantai 4 IAI STIBA Makassar, dilanjutkan dengan Musyawarah Kerja (Musker) I hingga 7 Juli 2026 sebagai langkah awal menyusun arah gerak organisasi.
Prosesi pengukuhan dipimpin oleh Ustaz Muhammad Basran, Lc., M.A., Ph.D., yang secara resmi mengamanahkan kepengurusan kepada Ahmad Tsaqib sebagai Ketua Himataf periode 2026–2027 M / 1448–1449 H beserta seluruh jajaran pengurus.

Dalam arahannya, Ustaz Muhammad Basran mengingatkan bahwa kemuliaan seorang penuntut ilmu Al-Qur’an tidak hanya terletak pada proses belajarnya, tetapi juga pada kesungguhannya dalam mengajarkan Kitabullah. Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Ia menegaskan bahwa orang-orang yang mengajarkan Al-Qur’an adalah orang-orang yang beruntung di mana pun mereka berada. Karena itu, keberadaan Himataf diharapkan menjadi salah satu sarana untuk melahirkan generasi yang tidak hanya mencintai Al-Qur’an, tetapi juga mampu menyebarkan nilai-nilainya kepada masyarakat.
Ia juga menyampaikan harapan kepada seluruh pengurus bahwa para guru senantiasa berharap murid-muridnya kelak mampu menjadi lebih baik daripada guru-gurunya. Harapan tersebut menjadi motivasi agar setiap pengurus terus belajar, memperbaiki diri, dan menghadirkan karya yang lebih besar bagi umat tanpa melupakan adab kepada para pembina.
Nasihat serupa disampaikan oleh Ustaz Abdullah Yusran, S.H., Lc., M.Ag. Ia menekankan pentingnya kedekatan pengurus dengan para pembina. Kematangan seseorang, menurutnya, tidak hanya dibentuk oleh ilmu yang dimiliki, tetapi juga oleh usia dan pengalaman. Para pengurus diharapkan memperbanyak interaksi dengan para pembina agar memperoleh bimbingan, nasihat, dan keteladanan dalam menjalankan amanah organisasi.
Ia juga mengingatkan bahwa salah satu indikator hidupnya sebuah organisasi adalah terjalinnya komunikasi yang aktif antara pengurus dan para pembina. Organisasi yang sehat bukan hanya terlihat dari banyaknya program kerja yang tersusun, tetapi juga dari kuatnya hubungan tarbiah, koordinasi, dan evaluasi yang terus berlangsung di dalamnya.
Setelah prosesi pengukuhan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Musyawarah Kerja I sebagai forum penyusunan arah kebijakan dan program kerja selama satu periode. Para pengurus merumuskan berbagai program yang diharapkan mampu menjadi wujud nyata visi dan misi Himataf, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an, semangat pelayanan, dan pembinaan mahasiswa.
Pengukuhan dan Musyawarah Kerja I ini menjadi tonggak penting bagi perjalanan Himataf. Sebagai kepengurusan perdana, para pengurus memikul amanah untuk meletakkan fondasi organisasi yang kokoh agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Keutamaan selalu milik orang yang memulai, meskipun generasi setelahnya menjadi lebih baik.”
Reporter: Ahmad Khalish
