Ustaz Zaitun kepada Lulusan IAI STIBA Makassar: Setelah Wisuda, Ada Dua Kampus yang Menanti

(STIBA.ac.id) Makassar — Gelar sarjana bukan penanda berhentinya proses belajar. Justru setelah meninggalkan bangku kuliah, para lulusan akan memasuki ruang belajar yang lebih luas: kampus kehidupan dan kampus pribadi.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Ustaz Dr. K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., dalam amanatnya kepada para lulusan pada rangkaian Wisuda IX Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar, Kamis (13/8/2026).

Di hadapan para wisudawan dan wisudawati, Ustaz Zaitun terlebih dahulu menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan mereka menyelesaikan pendidikan. Namun, ia mengingatkan bahwa wisuda tidak boleh dipahami sebagai akhir perjalanan.

“Tentu ini bukan akhir, tapi ini awal,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan makna dari ungkapan tersebut. Seusai wisuda, menurutnya, para lulusan akan memasuki dua madrasah atau dua kampus baru. Pertama adalah kampus masyarakat atau kampus kehidupan, tempat mereka berhadapan langsung dengan realitas dan tanggung jawab di tengah masyarakat. Kedua adalah kampus pribadi, tempat seseorang bertanggung jawab terhadap perkembangan dirinya sendiri.

Saatnya Menjadi Pembelajar Mandiri

Ustaz Zaitun memberikan penekanan khusus pada “kampus pribadi”. Menurutnya, setelah menyandang status alumni, para lulusan harus mulai melihat dirinya sebagai pribadi pembelajar.

Mereka tidak lagi dapat sepenuhnya bergantung pada kelas, jadwal perkuliahan, maupun keberadaan dosen sebagaimana ketika masih menjadi mahasiswa.

“Ini saatnya untuk melihat diri antum sebagai pembelajar,” pesannya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa menjadi pembelajar mandiri bukan berarti memutus hubungan dengan guru. Hubungan dengan guru dan orang-orang yang telah membimbing proses keilmuan justru perlu terus dijaga hingga akhir hayat.

Menurutnya, selama menempuh pendidikan di kampus, mahasiswa telah mendapatkan dasar dan “kunci-kunci” untuk melanjutkan proses belajarnya secara mandiri.

“Kita sudah diberikan kunci-kuncinya oleh kampus kita, oleh para dosen-dosen, pengasuh kita. Kunci sudah diberikan. Jangan selalu berada pada posisi seolah-olah mau disuapi terus,” ujarnya.

Teknologi Membuka Ruang Belajar yang Lebih Luas

Ustaz Zaitun menilai peluang untuk terus belajar saat ini jauh lebih terbuka karena perkembangan teknologi. Berbagai sarana pembelajaran dapat diakses secara mudah melalui internet.

Ia mencontohkan pembelajaran bahasa. Bagi alumni IAI STIBA Makassar, kemampuan bahasa Arab menurutnya perlu terus dipelihara dan ditingkatkan setelah lulus.

Ia mengingatkan bahwa pembelajaran bahasa Arab tidak seharusnya berhenti hanya karena tidak ada lagi aturan kampus, kewajiban berbicara bahasa Arab, ataupun pengawasan dari dosen.

Sebaliknya, alumni perlu memiliki inisiatif pribadi untuk terus meningkatkan kemampuan tersebut.

“Hari ini bahasa Arab itu tidak sulit lagi. Di YouTube penuh,” ujarnya, sembari mencontohkan bagaimana internet dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa.

Dalam pengalamannya sendiri, Ustaz Zaitun mengaku banyak mengembangkan kemampuan bahasa melalui kebiasaan mendengar. Saat belajar bahasa Arab, misalnya, ia banyak mendengarkan rekaman ceramah berbahasa Arab meskipun pada awalnya belum memahami seluruh maknanya.

Kebiasaan itu, menurutnya, ikut membentuk kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya. Ia juga menceritakan pengalaman menggunakan internet untuk mempelajari bahasa lain sebagai contoh bahwa seseorang dapat terus belajar di luar ruang kelas formal.

Gelar Sarjana Membawa Tanggung Jawab Keilmuan

Selain mendorong alumni menjadi pembelajar mandiri, Ustaz Zaitun mengingatkan bahwa empat tahun menjalani pendidikan membuat para lulusan kini dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang yang memiliki ilmu.

Status tersebut, menurutnya, bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga membawa tanggung jawab.

“Mari hargai ilmu ini,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa ilmu akan menjadi kemuliaan ketika berjalan bersama keimanan dan diwujudkan dalam ucapan serta perbuatan. Ilmu yang diperoleh tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus melahirkan pengamalan dan membentuk kualitas pribadi seorang Muslim.

Karena itu, tantangan setelah wisuda bukan lagi sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan bagaimana ilmu tersebut benar-benar dilatih dan dipraktikkan dalam kehidupan.

“Para wisudawan, wisudawati, mari terus kuatkan ini. Kita belajar dan bukan saja belajar ilmu. Apa yang sudah diajarkan di madrasah kehidupan perlu dilatihkan dan dipraktikkan,” pesannya.

Bagi para lulusan IAI STIBA Makassar, pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setelah toga dilepas, proses pendidikan belum selesai. Ruang kelas mungkin telah ditinggalkan, tetapi kampus kehidupan justru baru dimulai.