(STIBA.ac.id) Makassar — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) turut menjadi perhatian Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Ustaz Dr. K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., saat menyampaikan amanat pada rangkaian Wisuda IX Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar, Kamis (13/8/2026).
Di hadapan para wisudawan dan wisudawati, Ustaz Zaitun mengingatkan bahwa AI dapat menjadi sarana yang sangat membantu dalam proses belajar. Namun, penggunaannya harus disertai dengan dasar ilmu yang memadai, terlebih ketika digunakan untuk mencari atau membahas persoalan-persoalan keislaman.
“AI hanya bisa digunakan dengan baik kalau orang punya dasar ilmu. Terutama dalam Islam. Sebetulnya dalam masalah lain pun, tapi dalam Islam hati-hati. Kalau tidak punya dasar, itu juga bisa keliru,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu kelebihan AI adalah kecepatannya dalam merespons dan menyediakan informasi. Ia juga melihat teknologi tersebut terus belajar sehingga tingkat kekeliruannya dapat semakin berkurang. Meski demikian, kemampuan itu tidak berarti semua jawaban AI dapat diterima begitu saja.
Jangan Alergi, Jangan Langsung Percaya
Ustaz Zaitun kemudian memberikan sikap yang menurutnya perlu dimiliki dalam menghadapi perkembangan AI.
“Jadi bagaimana dengan AI? Jangan alergi. Jangan apriori. Apriori membenarkan atau apriori menolak. Gunakan dengan sebaik-baiknya,” pesannya.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan para alumni agar tidak mengambil dua sikap ekstrem: menolak teknologi hanya karena khawatir terhadap risikonya, atau sebaliknya menerima begitu saja setiap informasi yang dihasilkan AI.
Bagi lulusan perguruan tinggi yang telah memiliki bekal ilmu, AI justru dapat dimanfaatkan sebagai salah satu perangkat untuk mendukung proses belajar yang terus berlanjut setelah meninggalkan kampus.
“Di sinilah para pembelajar itu. Dan itu adalah tanggung jawab pada antum semua,” lanjutnya.
Ceritakan Pengalamannya Mengoreksi AI
Dalam gaya yang ringan, Ustaz Zaitun juga menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan AI. Ia mengaku beberapa kali berdiskusi bahkan “berdebat” dengan AI ketika menemukan jawaban yang menurutnya tidak tepat.
Salah satu contoh yang ia kemukakan berkaitan dengan pemaknaan kata “fitnah” dalam bahasa Arab. Menurutnya, AI ketika itu menerjemahkan kata tersebut dengan pengertian yang sama seperti penggunaan kata “fitnah” dalam bahasa Indonesia.
Ia kemudian menyampaikan argumentasi berdasarkan kajiannya mengenai penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab hingga akhirnya AI mengoreksi jawabannya.
Pengalaman itu ia jadikan contoh bahwa pengguna AI tetap membutuhkan pengetahuan dasar untuk menilai informasi yang diterima, bukan sekadar mengandalkan jawaban teknologi.
Ketika Gen Z Lebih Memilih Bertanya kepada AI
Ustaz Zaitun juga menyampaikan sisi lain perkembangan AI dengan nada humor. Menurutnya, teknologi tersebut mampu merespons pertanyaan dengan cepat dan tidak menunjukkan kebosanan ketika ditanya berulang kali.
Hal itu, katanya, menjadi pengingat tersendiri bagi para pendidik dan dai.
Ia menggambarkan bagaimana generasi muda bisa saja lebih memilih bertanya kepada AI apabila ketika bertanya kepada seorang ustaz beberapa kali justru mendapatkan respons yang kurang bersahabat.
“Dia bilang, ‘Ngapain nanya ustaz? Nanya AI aja.’ Nggak pernah bosan ditanya. Ya, hati-hati,” ujarnya, disambut dalam konteks pesan ringan kepada hadirin.
Ia bahkan berseloroh kepada para suami agar menjaga komunikasi dengan istrinya karena AI dapat memberikan respons yang ramah ketika menjadi tempat bertanya atau bercerita.
“Harusnya kita lebih hebat dari AI,” katanya.
Ilmu Tetap Menjadi Fondasi
Di balik contoh-contoh ringan tersebut, Ustaz Zaitun kembali menekankan kedudukan ilmu. Setelah menempuh pendidikan selama empat tahun, para alumni menurutnya telah memiliki bekal untuk masuk dalam golongan orang-orang berilmu.
Karena itu, ilmu yang telah diperoleh harus dihargai, dijaga, dan menjadi dasar ketika menghadapi berbagai perkembangan zaman, termasuk teknologi AI.
Ia juga mengingatkan bahwa ilmu tidak berhenti pada pengetahuan. Bagi seorang Muslim, ilmu harus berjalan bersama iman serta tampak dalam ucapan dan tindakan.
Pesan tentang AI tersebut menjadi bagian dari ajakan Ustaz Zaitun kepada para alumni IAI STIBA Makassar untuk terus menjadi pembelajar setelah wisuda: terbuka terhadap teknologi, memanfaatkannya dengan baik, tetapi tetap menjadikan ilmu sebagai alat untuk menilai dan mengoreksi informasi yang diterima.
