Hari Pertama di Asrama IAI STIBA Makassar: Orang Tua Mengantar, 4–5 Tahun Lagi Diharapkan Kembali Menyaksikan Kelulusan

(STIBA.ac.id) Ada yang datang dari Sulawesi, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga dari ujung barat dan timur Indonesia, Aceh dan Papua. Bersama orang tua dan keluarga, ratusan mahasiswa baru mulai menapaki babak baru pendidikan mereka di Institut Agama Islam (IAI) STIBA Makassar.

Sebanyak 603 calon mahasiswa baru IAI STIBA Makassar telah melakukan registrasi ulang. Hingga penutupan rangkaian Kedatangan Mahasiswa Baru yang berlangsung Senin–Selasa, 24–25 Agustus 2026, 569 orang telah tiba di kampus, terdiri atas 276 putra dan 293 putri. Sementara 34 calon mahasiswa lainnya belum hadir.

Kedatangan mahasiswa baru putra dan putri dari berbagai daerah di Indonesia menghadirkan beragam cerita. Sebagian untuk pertama kalinya meninggalkan kampung halaman dan tinggal jauh dari keluarga.

Bagi orang tua yang juga baru pertama kali berpisah dengan anaknya untuk waktu yang cukup panjang, momen tersebut tak selalu mudah. Di sela proses kedatangan dan registrasi, terlihat pula momen haru ketika orang tua harus melepas putra-putrinya untuk mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus penghuni asrama.

Setelah menyelesaikan proses registrasi, para mahasiswa baru diarahkan menuju kamar karantina di Gedung Muadz bin Jabal. Selama masa awal tersebut, mahasiswa baru ditempatkan pada area tersendiri untuk membantu proses adaptasi, membangun kedisiplinan dan pembinaan, sekaligus memberi kesempatan kepada mereka untuk lebih cepat mengenal teman-teman seangkatan.

Dalam arahannya kepada mahasiswa dan orang tua, Kepala Sekretariat IAI STIBA Makassar sekaligus Dekan Fakultas Syariah dan Ketua Program Studi S-2 Perbandingan Mazhab, Ustaz Dr. Kasman Bakry, S.H.I., M.H.I. menyampaikan sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan selama proses kedatangan dan penempatan mahasiswa baru.

Ia mengingatkan mahasiswa baru agar mengikuti seluruh prosedur yang telah ditetapkan sebagai bagian dari prasyarat memasuki kehidupan asrama. Para mahasiswa juga diminta bergabung bersama sesama mahasiswa baru di area yang telah disiapkan dan mengikuti arahan panitia selama masa orientasi.

Sementara itu, orang tua diberikan akses pada sejumlah area kampus, tetapi tidak diperkenankan memasuki beberapa fasilitas tertentu, di antaranya area pembelajaran dan perkantoran serta kamar-kamar asrama.

Pembatasan tersebut diterapkan untuk menjaga privasi mahasiswa, ketertiban dan keamanan asrama, serta mendukung proses adaptasi mahasiswa baru agar dapat berjalan dengan baik.

Orang tua dan keluarga tetap dapat memanfaatkan sejumlah fasilitas umum yang tersedia di lingkungan kampus, seperti gazebo-gazebo, Tamam Corner Cafe, Thaybah Mart, dan food court selama mendampingi putra-putri mereka.

Di akhir arahannya, Ustaz Dr. Kasman menyampaikan doa sekaligus harapan yang menggambarkan panjangnya perjalanan yang akan dimulai para mahasiswa baru.

“Mudah-mudahan Allah memberkahi pertemuan kita, adik-adik yang diantar betah, dan empat tahun kemudian, bagi yang anaknya langsung masuk S-1, atau lima tahun bagi yang anaknya masuk Ma’had Lughah dulu, orang tua kembali menyertai mereka dalam penyelesaian studi.”

Harapan itu menjadi penanda bahwa kedatangan mahasiswa baru bukan sekadar proses registrasi dan memasuki asrama. Bagi para mahasiswa, hari tersebut adalah awal perjalanan panjang menuntut ilmu, menjalani pembinaan, belajar hidup mandiri, dan bertumbuh jauh dari keluarga.

Bagi orang tua, momen mengantar kali ini sekaligus menjadi awal penantian: semoga empat atau lima tahun mendatang, langkah yang sama kembali membawa mereka ke Kampus IAI STIBA Makassar—bukan lagi untuk mengantar anak memulai kuliah, tetapi untuk menyaksikan mereka menuntaskan pendidikan dan merayakan kelulusan.

纸飞机

搜狗输入法下载

快连VPN

安卓模拟器下载

Telegram中文

Telegram

1