(STIBA.ac.id) Makassar – Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Nuh, DEA, mengisi kuliah umum bertema “Dakwah Ekonomi dan Transformasi Peradaban Umat” di Masjid Anas bin Malik IAI STIBA Makassar, Senin (2/11/2026). Kegiatan yang dimulai bakda Magrib ini diselenggarakan panitia dari Himpunan Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah (Himmah HES) dan diikuti mahasiswa secara luring dan daring.
Prof. Nuh adalah dosen Teknik Biomedika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan saat ini menjabat Komisaris Utama Bank Mega Syariah. Hadir pula Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A., Ph.D., Prof. Maksum selaku pengawas syariah Bank Mega Syariah sekaligus Dekan Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, rombongan Bank Mega Syariah, serta unsur pimpinan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah dan IAI STIBA Makassar.
Dalam pengantarnya, pembawa acara menyebut tema ini tidak hanya relevan bagi mahasiswa HES, tetapi mencakup hampir semua program studi karena erat kaitannya dengan dakwah.

Sambutan Rektor
Rektor menyampaikan ahlan wa sahlan kepada Prof. Nuh dan rombongan. Ia berharap silaturahim ini berlanjut dengan kerja sama yang lebih baik pada masa mendatang, termasuk bersama Bank Mega Syariah. Rektor juga menyebut jumlah mahasiswa IAI STIBA Makassar sekitar 2.500, sebagian besar tinggal di asrama dan mengikuti kegiatan ini secara luring maupun daring.
Bersyukur dan Menyiapkan Generasi yang Kuat
Prof. Nuh membuka materi dengan mengajak mahasiswa bersyukur, terutama karena telah dijadikan manusia setelah melalui proses kompetisi yang berat. Menurutnya, syukur adalah syarat untuk menjadi pemenang, dan hamba Allah yang pandai bersyukur memang sedikit. Ia juga mengingatkan bahwa syukur tidak berhenti pada pemberian, tetapi mendekatkan diri kepada Sang Pemberi.
Ia mengaitkan upaya kampus menyiapkan generasi yang kuat dengan QS An-Nisa ayat 9 dan hadis tentang mukmin yang kuat. Mahasiswa, kata dia, adalah generasi digital native yang memegang masa depan Indonesia.
“Siapa saja yang tidak menyiapkan masa depannya, dia tidak punya masa kini,” ujarnya.
Tantangan Generasi Digital
Prof. Nuh menyebut generasi digital menghadapi empat tantangan, yaitu krisis kesehatan mental, melemahnya kemampuan berpikir kritis karena kebiasaan langsung bertanya ke mesin pencari dan kecerdasan buatan, krisis identitas, serta kesenjangan digital. Inti masalahnya, menurut dia, teknologi berkembang lebih cepat daripada kematangan jiwa.
“Alat sudah canggih, tetapi kompas moral belum ikut diperbarui. Sehingga generasi ini bukan kekurangan akses, melainkan kekurangan fondasi,” katanya.
Karena itu, ia menegaskan akhlak sebagai agenda utama dan mengapresiasi IAI STIBA Makassar yang memperkuat fondasi kehidupan melalui ajaran Al-Qur’an.
Manfaat, Kepribadian, dan Semangat Belajar
Ia menekankan bahwa apa pun yang bermanfaat akan bertahan, dan manfaat adalah jawaban atas kebutuhan atau masalah. Mahasiswa diminta memiliki pola pikir sebagai problem solver, bukan problem creator. Dalam kaitannya dengan memberi, ia berpesan agar tiada hari tanpa sedekah, berapa pun nilainya.
Prof. Nuh juga mengingatkan agar mahasiswa tidak berorientasi pada pangkat. Dengan analogi matematika, bilangan yang kurang dari satu justru semakin kecil bila dipangkatkan, sehingga pangkat tinggi pada kepribadian yang belum utuh hanya memperburuk hasil. Ia mengajak mahasiswa membangun keutuhan kompetensi yang mencakup sikap, keterampilan, dan pengetahuan, serta menjadi pembelajar sejati. Dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, ia menyebut syarat belajar adalah menghilangkan egosentris, berikhtiar mencari guru, dan menjaga etika sebagai murid, termasuk menjauhi plagiasi.
Untuk menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin, ia menyebut empat hal: kepemimpinan yang kuat dan dekat dengan masyarakat, jejaring dan kolaborasi, transformasi digital, serta ilmu transdisiplin. Ia berpesan agar mahasiswa dari jurusan apa pun belajar tentang kecerdasan buatan, data, dan teknologi, serta dibekali literasi data, kewirausahaan, dan keuangan.
Ia menutup materi dengan pesan bahwa mendidik generasi digital dengan Al-Qur’an bukan sekadar melestarikan tradisi, melainkan menyelamatkan arah peradaban agar kemajuan teknologi tidak melenyapkan kemanusiaan. “Jangan matikan cahaya orang lain, tapi perbesar cahaya kita sendiri,” pesannya.

Tanya Jawab
Pada sesi tanya jawab, Muhammad Khalil Saad, mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Arab semester 1 asal Sorong, Papua Barat Daya, mengatakan mahasiswa sudah dibekali sikap dan keilmuan, tetapi masih membutuhkan keterampilan agar dapat menjadi agen yang menyampaikan informasi peradaban umat.
Prof. Nuh menjawab bahwa hidup memerlukan kecakapan hidup (life skill) di samping sikap dan pengetahuan, dan setiap orang memiliki talenta yang berbeda. “Tidak ada ciptaan Tuhan yang percuma,” ujarnya. Menurutnya, tugas kampus adalah menemukan talenta mahasiswa dan mengembangkannya sesuai keunikan masing-masing.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat oleh Rektor kepada Prof. Nuh, foto bersama unsur pimpinan dan tamu, serta doa kafaratul majelis

