(STIBA.ac.id) Maros – Dosen Institut Agama Islam STIBA Makassar, Ariesman M., S.T.P., M.Si., melaksanakan kegiatan edukasi dan pelatihan ekoteologi Islam serta pengelolaan sampah berkelanjutan di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Qurrotul ‘Ain, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan praktik pelestarian lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah dan pembangunan budaya hidup bersih di lingkungan pesantren.
Dalam kegiatan tersebut, Ustaz Ariesman menyampaikan materi tentang ekoteologi Islam, konsep pesantren zero waste, pemilahan sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos menggunakan bioaktivator, pemanfaatan teba atau biopori jumbo, serta pengelolaan lingkungan kandang ayam secara berkelanjutan.
Materi disampaikan dengan pendekatan praktis agar prinsip-prinsip pelestarian lingkungan tidak berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari warga pesantren.
Menurut Ariesman, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Nilai-nilai Islam perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk menjaga kebersihan, mengurangi timbulan sampah, memanfaatkan sumber daya secara bijak, serta mencegah kerusakan lingkungan.
Melalui pendekatan ekoteologi, pendidikan Islam diharapkan dapat membentuk kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keimanan dan tanggung jawab moral manusia.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Pembina Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Qurrotul ‘Ain, Ustaz Dr. Syandri Syaban, Lc., M.Ag. Kehadiran pembina pesantren menjadi bagian penting dalam membangun visi bersama mengenai pengembangan pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan.
Dalam pengembangan ke depan, diharapkan Pondok Pesantren Qurrotul ‘Ain dapat tumbuh menjadi pesantren percontohan dalam penerapan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi dengan pendidikan Islam. Praktik-praktik yang dikembangkan diharapkan mampu menginspirasi pesantren lain untuk menerapkan pendekatan serupa sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing.
Salah satu langkah yang dapat dikembangkan adalah membangun sistem pengelolaan sampah dari sumbernya, mulai dari pemilahan, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga pemanfaatan sarana pengolahan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan pesantren. Pembentukan tim aksi santri peduli lingkungan juga dapat menjadi strategi untuk menumbuhkan partisipasi aktif dan membangun kebiasaan positif secara berkelanjutan.
Dengan demikian, santri tidak hanya memperoleh pengetahuan agama dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga belajar menerapkan nilai-nilai Islam dalam menjaga kebersihan, mengelola sumber daya, dan merawat lingkungan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi dosen dalam pengabdian kepada masyarakat, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam dalam mengembangkan model pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, teknologi tepat guna, dan kepedulian lingkungan.
Ke depan, pengembangan pesantren ramah lingkungan diharapkan dapat menjadi gerakan yang lebih luas. Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembentukan karakter sekaligus pelopor praktik kehidupan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui integrasi ekoteologi Islam dan penerapan teknologi tepat guna, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Qurrotul ‘Ain diharapkan dapat mengembangkan praktik baik yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan internal pesantren, tetapi juga menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya.

