info@stiba.ac.id +62 852 8888 1799

Futsal dan Taklim Pengurus BRTM: Ustaz Abdullah bin Yusran Ingatkan Pentingnya Peran di Balik Layar

Feature - Kegiatan Mahasiswa

(STIBA.ac.id) Makassar – Biro Rumah Tangga Masjid (BRTM) Anas bin Malik IAI STIBA Makassar sukses menggelar agenda Futsal & Taklim Pengurus pada Sabtu (24/10/2026). Mengusung tema “Menjaga Fit, Memperkuat Ukhuwah”, kegiatan yang berlangsung di Kakanta Sport Center ini dihadiri oleh jajaran pengurus, imam, dan muazin masjid.

Di sela-sela agenda olahraga tersebut, Ustaz Abdullah bin Yusran, B.A., M.Ag. memberikan suntikan ruhiah melalui sesi taklim. Ia membuka pemaparannya dengan mengutip hadis riwayat Muslim tentang mukmin yang kuat. Namun, ia menekankan pada penggalan hadis “Ihrish ‘ala ma yanfa’uka”, yang berarti kekuatan yang dimiliki harus diarahkan pada amal yang bermanfaat sesuai dengan porsi dan kapasitas masing-masing.

Filosofi Sepak Bola dan Kerja Tim

Dalam penjelasannya, Ustaz Abdullah menggunakan analogi tim sepak bola yang sangat relevan dengan kegiatan sore itu. Ia menyebut bahwa tidak semua pemain harus menjadi striker yang mencetak gol, dan tidak semua bisa menjadi kiper yang menjaga gawang. Kadang tugas seseorang hanyalah memberi umpan (assist).

“Dalam kehidupan atau organisasi, ritmenya persis sama. Ada yang posisinya di depan seperti imam masjid atau ketua departemen, ada juga yang di balik layar seperti muazin atau anggota biasa,” jelasnya. Ia menyayangkan kebiasaan banyak orang yang sering kali hanya riuh mengapresiasi sang ketua atau mereka yang tampil di depan, namun lupa berterima kasih kepada tim pendukung di belakang layar yang menjaga agar program tetap berjalan. Padahal, tanpa mereka, sebuah tim pasti akan runtuh.

Ujian Keikhlasan dan Niat

Lebih lanjut, ia menyentuh persoalan hati bagi mereka yang posisinya ada di belakang dan kerja kerasnya jarang diapresiasi. Di sinilah letak ujian keikhlasan yang sesungguhnya. Ustaz Abdullah mengingatkan kembali fondasi utama setiap amal, yaitu niat lurus karena Allah.

“Nggak masalah kalau nama kita nggak disebut oleh manusia. Nggak masalah kalau kita cuma jadi pengumpan. Selama niat kita lurus karena Allah, pahala di sisi-Nya tidak akan pernah salah alamat,” pesannya.

Menutup arahannya, ia memberikan pesan pamungkas yang menyentuh. Ketika masa kepengurusan berakhir, wadah dan posisi boleh saja berganti, tetapi semangat menebar kebaikan tidak boleh ikut berhenti. Pengabdian sejati seorang mukmin, tegasnya, baru benar-benar selesai ketika kakinya telah menginjak surga.

Reporter: Fathradillah Rifaldi